Free Hot Articles
  •  

    July 2008
    S M T W T F S
    « Jun   Oct »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • Archives

  • Blogroll

  • Komentar Terbaru

  • Meta

  • « Hadits Mengenai Khawarij | Home | Dzikir Berjama’ah Secara Jahr »

    Doa: Syukur atau Kufur

    By hotarticle | July 7, 2008

    Doa merupakan inti ibadah. Doa merupakan awal terjadinya kesyukuran. Syaikh Ibnu Athoillah pernah berkata bahwa beliau terkadang malu untuk berdoa dan meminta kepada Allah SWT karena merasa bahwa beliau belum mensyukuri segala ni’mat yang telah Allah anugerahkan. Selain itu beliau juga takut merasa seakan-akan Allah SWT tidak memberi sebelum diminta. Namun kemudian beliau tetap berdoa, karena doa adalah perintah Allah. Sedangkan menjalankan perintah Allah SWT adalah ibadah.

    Jadi maksudnya adalah orang yang berdoa itu hendaklah ingat bahwa Allah adalah Yang Memberi sebelum diminta. Hendaknya orang yang berdoa itu ingat akan segala anugerah yang telah Allah beri tanpa kita minta, padahal kita bukanlah orang yang banyak bersyukur. Sehingga muncul keyakinan bahwa Allah SWT memanglah Mahapengasih lagi Mengabulkan doa orang-orang yang berdoa. Kepada mereka yang tidak berdoa saja Allah telah begitu pengasih. Bagaimana lagi kepada mereka yang berdoa kepada-Nya.

    Sebagian manusia beribadah kepada patung atau kepada manusia seperti Firaun. Mereka meminta kepada berhala-berhala itu apa-apa yang mereka inginkan. Mereka berfikir bahwa berhala-berhala itu dapat memberi manfaat. Sedangkan hamba-hamba Allah yang sejati hanya kepada Allah mereka menyembah dan meminta. Mereka yakin bahwa hanya Allah yang dapat memberi manfaat.

    Setiap ibadah tentu ada hikmahnya. Ada orang yang berdoa kepada Allah, “Ya Allah, jadikanlah aku sebagai hamba-Mu yang memiliki penghasilan di atas 10 juta rupiah per hari.” Lalu dia berfikir, doa merupakan kunci ataupun password untuk membuka pintu dari perbendaharaan yang telah Allah sediakan bagi kita. Jika Dia tidak memberikan apa yang kita minta hari ini, maka Ia mengakumulasi pemberian-Nya yang Dia tahan untuk diberikan di kemudian hari. Atau mungkin Dia mengkonversinya dengan yang lebih baik dan lebih berharga dari uang 10 juta rupiah pada hari itu. Lalu orang itu teringat bahwa Allah masih memberinya kehidupan pada hari itu. Sementara di tempat lain terdengar suara tangis mengiringi anggota keluarganya yang meninggal dunia.

    Orang itu juga teringat bahwa Allah telah menggerakkan dia untuk ikut shalat shubuh berjama’ah. Sementara sebagian tetangganya masih terlelap dibuai mimpi. Hamba itu juga teringat akan kesehatan yang dia rasakan. Sementara sebagian manusia sedang merasakan kesakitan akibat parahnya penyakit yang dia derita, dan diperlukan uang puluhan juta rupiah untuk mengobatinya.

    Lalu dia teringat akan mata pencahariannya yang mana sebagian manusia harus mencari nafkah dengan jalan yang lebih berat namun lebih sedikit hasilnya. Teringat pula ia akan segala makanan yang dia ni’mati. Sementara di tempat lain, orang-orang menderita kelaparan yang hebat.

    Mengingat semua itu, bersyukurlah si hamba karena Allah telah memberinya lebih dari yang ia pinta. Dia berharap bahwa segala kebaikan itu tidak hanya dia rasakan di dunia ini, namun juga di akhirat kelak. Lalu dia memohon perlindungan Allah dari siksa neraka yang Allah siapkan bagi mereka yang mengingkari Allah Sang Pemberi ni’mat.

    (hotarticle.org)

    Topics: Ibadah dan Hukum, Mari Raih Kesuksesan |

    One Response to “Doa: Syukur atau Kufur”

    1. Ahmad Dimyati Says:
      August 2nd, 2008 at 8:10 pm

      Ud’uni astajib lakum (Berdoalah kalian padaKu, maka Aku akan mengabulkan pada kalian)

      Inilah pernyataan Allah yang bersifat imperatif; karena Allah berkenan mengingatkan manusia, bahwa mereka hanyalah makhluk yang lemah.

      Allahush shamad (Allah adalah Zat tempat bergantung)

      Inilah firman Allah yang menegaskan, hanya Dialah yang berhak untuk dijadikan tempat bergantung dan menyandarkan semua keinginan, harapan dan do’a;
      Tidakkah manusia akan dianggap sombong, ketika dia enggan berdo’a kepada Allah SWT.
      Tidakkah ingat, bahwa RAsulullah SAW, sebagai insan terbaik dan paling dekat dengan Allah, senantiasa melantunkan do’a-do’a dalam setiap waktu; sebagai bukti bahwa beliau mengakui kebesaran Allah,bukan semata karena didorong keinginan duniawi…

      Syukurkah, atau kufurkah do’a itu?

      Definisi syukur adalah:
      “Idzharu ni’matil mun’im bitasharrufiha ‘ala ma yuwafiqu biiradatil mun’im” (menampakkan ni’mat yang diberikan oleh DZat pemberi ni’mat dengan cara mentasharrufkannya pada hal yang yang sesuai dengan kehendak DZat pemberi ni’mat).

      Dan iradah Allah di antaranya telah memerintahkan manusia untuk berdo’a. Akankah kita menentangNya sehingga justru menjadi orang-orang yang kufur?

      Wallahu a’lam bish shawab.

      Kang Dim

    Comments