Free Hot Articles

About Me

Put something about you here by editing the right sidebar.

Blogroll

Search


« Popeye, Salafy dan Katholik | Home | Takhalli, Tahalli, Tajalli »

Robbi Arinii Anzhur Ilayka

By hotarticle | March 24, 2008

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhannya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri (tajalli) kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS. Al-A’roof: 143)

“Tidak akan melihat Aku,” merupakan pernyataan Allah, bahwa bagaimana pun juga, mata-kepala yang berbentuk bundar dan terletak pada rongga mata dengan daya lihatnya, tidak akan bisa melihat Tuhan. Tetapi tidak berarti menutup kemungkinan untuk melihat Allah dengan mata-bathin. Bila mata-hati itu dianugerahi oleh Allah berupa nur-Nya (nurul bashiroh), dan terdapat pancaran dan nyala pandangan bathin (syi’a-ul bashiroh) yang kemudian menguasai pandangan mata-kepala, maka pada kondisi itulah dimungkinkan terjadinya melihat Allah.

Ibnu Taimiyah berkata, “Banyak orang-orang Sufi berkata: ‘Aku melihat Allah.’ Diceritakan orang tentang ucapan Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq ketika beliau ditanya: ‘Apakah Anda melihat Allah?’ Ja’far menjawab: ‘Aku melihat Allah kemudian aku menyembah-Nya.’ Kemudian ditanyakan lagi: ‘Bagaimana Anda melihat-Nya?’ Beliau menjawab: ‘Tidak mungkin mata-kepala dapat melihat-Nya dengan keterbatasannya. Tetapi mata hati yang Haqqul Yaqin dapat melihat Allah.’”

Imam Al-Qurthuby berkata dalam Al-Jami’ul-Ahkamul-Qur’an, “Melihat Allah SWT di dunia (dengan mata-hati) adalah dapat diterima aqal. Kalau sekiranya tidak bisa, tentulah permintaan Musa as untuk bisa melihat Allah adalah hal yang mustahil. Tidak mungkin seorang Nabi tidak mengerti apa yang jaiz dan apa yang mustahil pada Allah. Bahkan jika Nabi Musa tidak meminta, hal ini (melihat Allah) adalah bisa terjadi dan bukan mustahil.”

Tajalli menurut pendapat Shufi adalah Allah menampakkan Diri-Nya sendiri tanpa adanya yang selain dari-Nya, dengan segala Shifat Kesempurnaan-Nya. Tajalli Allah pada gunung menunjukkan bahwa Allah bisa saja (jaiz) bertajalli (menampakkan Diri-Nya) kepada benda apa pun juga, lebih-lebih kepada para Rasul, para Nabi dan para waliyullah atau kepada siapa pun yang Dia kehendaki.

Ketika makhluq mengalami tajalli Allah pada dirinya, maka ia tidak lagi melihat dan tidak lagi mengetahui eksistensi/wujud apa pun, kecuali Allah. Saat itu ia benar-benar menyaksikan bahwa tidak ada yang wujud kecuali Allah. Bahkan dia tidak menyadari, tidak merasakan, tidak mengetahui eksistensi dirinya sendiri. Dirinya telah sirna (fana), yang benar-benar wujud saat itu hanyalah Allah. Segala sesuatu telah sirna dan tetap kekal (baqa) Wujud Allah. Tidak ada yang maujud, kecuali Allah. Maka wajarlah jika dari orang yang sedang dalam kondisi seperti ini keluar kata-kata seperti “Anal-Haqq” (Akulah Al-Haqq), atau “Laa ilaaha illaa Ana” (Tiada ilah kecuali Aku). Ingat, kalimat Tauhid juga bermakna tiada yang wujud dengan sebenar-benarnya wujud, kecuali Allah.

Namun demikian, tajalli dan pembahasannya tidak bisa menggambarkan kondisi tersebut hingga 100%. Hal ini merupakan masalah pengalaman, bukan sesuatu yang bisa dipelajari. Menjelaskan tajalli itu seperti menjelaskan rasa manis. Ia hanya bisa difahami dengan benar oleh mereka yang pernah mengalaminya. Tajalli memang bukan untuk difahami, tetapi dialami. Cara untuk membersihkan jiwa itulah yang perlu kita pelajari, fahami, dan kita amalkan. Dengan mengamalkan apa yang telah kita pelajari dan kita fahami, maka Allah akan mengajarkan kita sesuatu yang belum kita pelajari atau belum kita fahami hingga kita memahami hal tersebut. Amalkan apa yang telah Anda ketahui, maka Allah akan mengajarkan Anda apa yang belum Anda ketahui.

Wallahu a’lam.

Topics: Aqidah, Mari Raih Kesuksesan |

Comments