Free Hot Articles

About Me

Put something about you here by editing the right sidebar.

Blogroll

Search


« MUHAMMAD AL-MUSTHOFA | Home | ISLAMNYA KABILAH KHAZRAJ »

SEPERTI MUSA

By hotarticle | October 11, 2006

Seorang Nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka seperti engkau ini. [Ulangan 18:18]

Taurat yang merupakan bagian dari Alkitab yang dipegang umat Kristiani saat ini menjelaskan bahwa Tuhan telah mengabarkan bahwa kelak Dia akan membangkitkan (yub`ats) seorang Nabi yang seperti Musa. Siapakah Nabi yang seperti Musa itu. Setelah melihat karakter Musa, kemudian kita cocokkan dengan Nabi-Nabi setelah Musa, maka tidak ada yang lebih mirip dengan Musa, kecuali Muhammad Rasulullah shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam. Apa saja persamaan antara Nabi Musa ‘alayhis salam dengan Muhammad Rasulullah shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam itu? Antara lain adalah:

1. Ayah dan Ibu

Musa mempunyai seorang ayah dan seorang ibu. Muhammad Rasulullah saaw juga mempunyai seorang ayah dan seorang ibu. Tetapi Yesus hanya mempunyai seorang ibu. Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad Rasulullah saaw itu seperti Musa as.

2. Kelahiran Ajaib

Musa as dan Muhammad Rasulullah saaw lahir secara normal dan alamiah, yaitu melalui percampuran fisik antara seorang pria dan wanita, tetapi Yesus diciptakan dengan sebuah keajaiban istimewa. Dalam Kitab Matius 1: 18 “… sebelum mereka (Yusuf dan Maria) hidup sebagai suami istri, ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus …” Dan, Lukas mengatakan bahwa ketika berita gembira atas kelahiran anak suci tersebut diberitahukan kepada Maria, dia memberi alasan: “… bagaimana hal itu mungkin terjadi, sedangkan aku belum bersuami? Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Maha Tinnggi akan menaungi engkau….” (Lukas l: 34-35).

Kitab Suci Al-Qur’an menegaskan kelahiran Yesus yang ajaib tersebut dalam istilah yang mulia dan luhur dalam menjawab pertanyaan yang logis dari Maria: “Ya Rabbku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun?”Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah” lalu jadilah dia.”(QS. Ali Imran: 47). Bukanlah menjadi keharusan bagi Allah untuk menanam benih pada seseorang atau binatang. Jika Dia menghendakinya itu pasti akan terjadi. Ini adalah konsep umat Islam pada kelahiran Yesus. Ketika Ahmed Deedat membandingkan versi Al-Qur’an dan Injil tentang kelahiran Yesus kepada pendeta Dunkers, pemimpin masyarakat penginjil, dan ketika Ahmed Deedat bertanya, “Versi mana yang lebih Anda sukai untuk diberikan kepada anak perempuan Anda, Al-Qur’an atau Injil?” Pria tersebut menundukkan kepalanya dan menjawab, “Versi Al-Qur’an.”.

3. Menikah

Musa dan Muhammad Rasulullah saaw menikah dan mempunyai anak, tetapi Yesus tetap menjadi seorang bujangan selama hidupnya. Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad Rasulullah saaw seperti Musa as.

4.Yesus Ditolak Oleh Kaumnya

Musa as dan Muhammad Rasulullah saaw diterima sebagai nabi oleh kaumnya dalam kehidupan mereka. Memang benar bahwa orang-orang Yahudi terus menerus memberi kesulitan kepada Musa, tetapi sebagai bangsa secara keseluruhan, mereka mengetahui bahwa Musa adalah utusan Allah yang dikirim untuk mereka. Orang-orang Arab juga membuat kehidupan Muhammad Rasulullah saaw menjadi menderita. Beliau sangat menderita akibat ulah mereka. Setelah 13 tahun berda’wah di Makkah, beliau harus pindah dari kota kelahirannya.

Tetapi sebelum kematiannya, bangsa Arab secara keseluruhan telah menerimanya sebagai utusan Allah. Tetapi berdasarkan Injil - “Dia (Yesus) datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerimanya.” (Yohanes 1: 11). Dan bahkan sampai hari ini, setelah 2000 tahun, kaumnya, orang-orang Yahudi, secara keseluruhan telah menolaknya. Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa.

5. Kerajaan “Dunia Lain”

Musa as dan Muhammad Rasulullah saaw adalah nabi dan juga raja (khalifah). Nabi berarti seorang manusia yang menerima wahyu untuk menunjuki manusia dan menyampaikan petunjuk ini kepada ciptaan Allah seperti yang diterimanya tanpa ada penambahan atau pengurangan. Raja adalah seorang manusia yang mempunyai kekuasaan untuk menerapkan suatu hukum terhadap kaumnya. Tidaklah penting apakah orang tersebut mengenakan mahkota atau tidak, atau apakah dia mengenakan pakaian raja; Jika seseorang mempunyai hak untuk memberikan hukuman mati -Dia adalah raja-. Musa memiliki kekuasaan tersebut. Ingatkah Anda orang Israel yang pada hari Sabbath ditemukan sedang mengumpulkan kayu bakar, dan Musa menghukum mati orang tersebut dengan dilontari batu? (Bilangan 15: 36). Terdapat tindakan kejahatan lainnya yang disebutkan dalam Injil yang karenanya Musa memberikan hukuman mati pada orang-orang Yahudi tersebut. Begitujuga Muhammad Rasulullah saaw, beliau memiliki kekuasaan atas kaumnya. Pada Injil terdapat beberapa contoh orang-orang yang hanya diberi kenabian, tetapi tidak dalam posisi untuk menerapkan petunjuk mereka. Beberapa orang suci Tuhan yang tidak berdaya menghadapi penolakan yang keras atas pesan yang disampaikan mereka ini adalah nabi Lot, Jonah, Daniel, Ezra dan Yohanes Pembaptis. Mereka hanya dapat menyampaikan pesan, tetapi tidak dapat memaksakan hukuman. Sayangnya nabi suci Yesus juga termasuk kategori ini. Para penginjil Kristen dengan jelas membenarkan hal ini: Ketika Yesus diseret kedepan Gubernur Roma (Pontius Pilatus) dan dituduh sebagai pendusta, Yesus membuat sebuah pernyataan meyakinkan dalam pembelaannya untuk menyangkal tuduhan yang salah:

“Jawab Yesus, ‘Kerajaanku bukan dari dunia ini; Jika kerajaanku dari dunia ini, pasti hamba-hambaku telah melawan, supaya aku jangan diserahkan kepada orang orang Yahudi, akan tetapi kerajaanku bukan dari sini. ” (Yohanes 18: 36). Hal ini meyakinkan Pilatus (seorang penyembah berhala) dengan pemikiran bahwa Yesus tidak sepenuhnya berkuasa atas kemampuan ruhaninya, dia tidak menganggapnya orang yang membahayakan pemerintahannya. Yesus hanya menuntut sebuah kerajaan spiritual, dengan kata lain dia hanya menyatakan sebagai seorang nabi. Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa.

6. Tak Ada Hukum Baru

“Musa dan Muhammad Rasulullah saaw membawa hukum dan aturan baru untuk kaumnya. Musa tidak hanya memberi 10 perintah Allah kepada orang-orang Israel, tetapi hukum-hukum peribadatan yang sangat luas sebagai petunjuk kaumnya. Muhammad Rasulullah saaw datang kepada sebuah kaum yang sangat bodoh dan biadab. Mereka menikahi ibu tirinya, menguburkan anak perempuannya hidup-hidup, mabuk-mabukan, berzina, menyembah berhala dan berjudi dari hari ke hari. Gibbon melukiskan orang-orang Arab sebelum Islam dalam Decline and Fall of the Roman Empire, “Kebrutalan manusia, hampir tanpa perasaan, sulit dibedakan keburukannya dari sisa-sisa penciptaan hewan.” Sukar mendapatkan sesuatu yang membedakan antara manusia dan hewan pada saat itu. Mereka adalah hewan dalam wujud manusia.

Dari kebiadaban yang hina ini, Muhammad Rasulullah saaw mengangkat mereka, dalam kata-kata Thomas Carlyle, “Menjadi pembawa obor penerangan dan pelajaran. Bagi bangsa Arab ini adalah kelahiran dari kegelapan menjadi cahaya (minazh-zhulumati ilan-nur). Untuk pertama kalinya Arab menjadi hidup karenanya. Masyarakat penggembala yang miskin, mengembara tidak dikenal di padang pasir sejak penciptaan dunia. Perhatikan, tidak dikenal menjadi terkemuka di dunia, yang kecil telah tumbuh menjadi dunia besar. Dalam satu abad kemudian Granada telah berada di tangan bangsa Arab dan Delhi di tangannya yang lain. Pandangan sekilas dalam keberanian, kemegahan, dan cahaya kecerdasan, Arab menyinari bagian yang besar dari dunia… ” Kenyataannya adalah Muhammad Rasulullah saaw memberikan kaumnya sebuah hukum dan peraturan yang belum pernah dimiliki mereka sebelumnya.

Mengenai Yesus, ketika orang-orang Yahudi merasa curiga terhadapnya bahwa ia mungkin seorang penipu dengan tujuan menyesatkan ajaran mereka, Yesus mengambil penderitaan untuk meyakinkan mereka bahwa dia tidak datang dengan agama baru. Tidak ada hukum baru dan tidak ada peraturan baru. Saya kutip kata-katanya: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau meniadakan kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu, ‘Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi’. “(Matius 5: 17-18).

Dengan kata lain, dia tidak datang dengan hukum atau aturan baru. Dia datang hanya untuk menggenapi hukum lama. Hal inilah yang diberikannya kepada orang-orang Yahudi untuk dimengerti. Kecuali jika ia sedang mencoba menggertak orang-orang Yahudi, agar menerimanya sebagai utusan Allah dan dengan dalih mencoba memasukkan agama baru kepada mereka. Tidak! Utusan Tuhan ini tidak akan pernah berusaha dengan curang untuk menumbangkan agama Tuhan. Dia dengan sendirinya mematuhi hukum. Dia mematuhi perintah-perintah Musa, dan menghormati hari Sabbath. Tidak ada kesempatan seorang Yahudi menunjukkan jari padanya dan berkata, “Mengapa kamu tidak puasa” atau “Mengapa kamu tidak mencuci tanganmu sebelum membelah roti”. Yesus menuduh mereka selalu mengatakan bertentangan dengan muridnya, tetapi tidak pernah bertentangan dengannya. Hal ini karena sebagai seorang Yahudi yang baik, ia menghormati hukum-hukum nabi yang mendahuluinya. Singkatnya, ia tidak menciptakan agama baru dan tidak membawa hukum baru seperti Musa dan Muhammad Rasulullah saaw. Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad Rasulullah saaw seperti Musa.

7. Bagaimana Mereka Pergi

Musa dan Muhammad meninggal dalam kematian yang wajar, tetapi menurut agama Kristen, Yesus dengan kejam dibunuh di tiang salib. Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa.

8. Surga Sebagai Tempat Kediaman

Musa dan Muhammad terbaring dikubur dalam bumi, tetapi menurut umat Kristian, Yesus beristirahat di surga. Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad seperti Musa.

Sumber: Ahmed Deedat dalm bukunya “The Choice

Topics: Muhammad Dalam Alkitab |

13 Responses to “SEPERTI MUSA”

  1. Aji Tulur Jejangkat Says:
    December 18th, 2007 at 8:38 am

    Jika melihat dari semua persamaan diatas memang benar antara Musa dan Muhammad memiliki kesamaan, akan tetapi kesamaan tersebut hanya bersipat lahiriah belaka. sekarang coba kita teliti lebih dalam apa persamaan Musa dan Yesus yang menjadi dasar bagi kita untuk memilih siapakah yang patut kita pertimbangkan sebagai Nabi Yang Sah…

    Komentar lengkap dipindahkan ke forum diskusi. Untuk mendiskusikan hal ini, silahkan klik di sini.

  2. Chepy Amiraga Says:
    December 19th, 2007 at 6:12 am

    Keraguan Dalam Beragama
    From Website - Posted at: 16/05/2007 19:05

    Dalam masterpiece­-nya yang berjudul “The Choice” (diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Al-Kautsar), Ahmed Deedat mengkritik Bibel yang banyak dianggap sebagai Kitab Suci oleh umat Kristiani. Yang dipermasalahkan adalah masalah keabsahannya yang teramat meragukan.

    Dari ratusan versi Injil yang dahulu tersebar, hanya empat yang dipertahankan, sedangkan sisanya dilenyapkan. Bagaimana pun, yang tadinya ingin dimusnahkan sepenuhnya pun sebagian di antaranya masih bisa lolos dan lestari hingga masa kini. Yang dinyatakan sah oleh pihak Gereja adalah Bibel versi Matius, Lukas, Johanes dan Markus. Adapun yang dinyatakan terlarang namun beredar luas hingga hari ini antara lain adalah versi Barnabas.

    Masalah pertama yang muncul dari penyeleksian ini adalah kevalidan seleksinya. Apakah yang menjadi standar dari penyeleksian tersebut? Siapa yang melakukan penyeleksiannya, dan apakah orang tersebut memang memiliki kualifikasi yang pantas untuk melakukannya?

    Berbeda dengan Islam, umat Kristiani tidak mengenal ilmu sanad. Dalam Islam, kredibilitas seseorang menjadi parameter seberapa jauh kesaksiannya dapat diterima. Orang yang terbiasa berbohong tentu diperlakukan dengan cara yang berbeda dengan orang yang dikenal jujur. Orang yang pernah berzina sudah pasti beda dengan mereka yang tidak pernah melakukannya. Bahkan periwayat hadits yang diketahui pernah berbohong kepada binatang pun bisa menyebabkan hadits menjadi tidak shahih. Dalam sejarah Katolik, bahkan Paus pun ada yang memiliki perempuan simpanan, korupsi, dan dicap sebagai ahli bid’ah oleh penerusnya.

    Salah satu hal yang paling mengundang tanda tanya adalah karena semua Bibel ini tidak ada yang sama, atau setidaknya saling mendukung. Informasi-informasi yang terdapat di dalamnya seringkali saling berlawanan, sehingga menimbulkan banyak keraguan. Jika keempatnya adalah Firman Tuhan, maka mengapa saling bertentangan? Masalahnya terletak pada subjektifitasnya.

    Jika disebut Bibel Matius, maka terselip pengertian “menurut”, sehingga makna yang seharusnya muncul dalam benak kita adalah “Bibel menurut St. Matius”. Maka dengan sendirinya, pendapat Matius belum tentu (dan memang tidak) sama dengan pendapat Markus, Lukas, dan Johanes.

    Perbedaan pendapat adalah suatu hal yang lumrah dalam kehidupan manusia, namun tidak wajar jika terjadi pada Tuhan. Dalam Islam, perbedaan pendapat atau ikhtilaf itu memang seringkali terjadi dalam masalah-masalah cabang (furu’iyah), namun ada batasnya. Misalnya, ada perdebatan mengenai jarak minimal perjalanan yang menyebabkan seseorang boleh men-jama’ shalatnya. Ada yang menentukan jarak berdasarkan jarak minimal yang pernah ditempuh Rasulullah saw. ketika beliau men-jama’ shalatnya. Namun, ada pula yang memberikan pertimbangan kekinian. Jika dahulu delapan puluh kilometer harus ditempuh dalam waktu berhari-hari, maka pada masa kini dari Jakarta ke Padang pun tidak sampai dua jam. Maka, kebolehan men-jama’ pun harus disesuaikan dengan kemajuan teknologinya. Ada pula yang mengatakan bahwa faktor aksesibilitas juga mesti diperhitungkan. Menempuh perjalanan di padang pasir berbeda dengan menempuh perjalanan dari Bogor ke Bandung. Di tengah padang pasir barangkali memang tak ada tempat untuk shalat, namun di sepanjang jalan antara Bogor dan Bandung ada puluhan masjid yang bisa dipilih untuk perhentian sementara. Jika banyak tempat untuk shalat, mengapa harus men-jama’?

    Perbedaan semacam ini tidak pernah menjadi masalah bagi umat Islam. Yang menjadi masalah adalah jika terjadi perbedaan dalam hal-hal yang sifatnya pokok. Misalnya, ada yang berpendapat bahwa Iblis menolak sujud pada Adam as. karena Tauhidnya sempurna, padahal Al-Qur’an jelas-jelas mengatakan bahwa alasan dari penolakan itu hanyalah karena Iblis takabur dan jumawa. Ini bukan lagi termasuk perbedaan pendapat yang merupakan wilayah ikhtilaf, melainkan sebuah pengingkaran terhadap Al-Qur’an.

    Masih dalam buku “The Choice”, Ahmed Deedat menceritakan kisah tentang kedatangan seorang misionaris dari Sekte Kesaksian Jehovah (Jehovah’s Witness) ke rumahnya. Orang itu datang dan menawarkan majalah Awake dan Watchtower padanya sebagai bagian dari misi sucinya. Kebetulan, Ahmed Deedat tidaklah asing dengan majalah Awake, dan beliau kemudian memperlihatkan sebuah edisi lama dari majalah tersebut (tepatnya edisi 8 September 1957) yang memuat sebuah artikel menakjubkan berjudul : 50,000 Errors in the Bible? Berikut adalah sekelumit kutipannya yang membuat sang misionaris tercengang :

    Recently a young man purchased a King James Version Bible thinking it was without error. One day when glancing through a back issue of Look magazine he came across an article entitled “The Truth About the Bible”, which said that “as early as 1720, an English authority estimated that there were at least 20,000 errors in the two editions of the New Testament commonly read by Protestants and Catholics. Modern students say there are probably 50,000 errors.” The young man was shocked. His faith in the Bible’s authencity was shaken. “How can the Bible be reliable when it contains thousands of serious discrepancies and inaccuracies?” he asks.

    Masalahnya, tidak ada fungsi kontrol terhadap isi Bible itu sendiri. Tak ada yang pernah menghapal Bible (barangkali justru Ahmed Deedat dan para kristologlah yang telah lebih dahulu melakukannya), bahkan hanya sedikit sekali diantara umat Kristiani yang membaca Bible secara menyeluruh dari ayat pertama hingga yang terakhir. Berbeda dengan Al-Qur’an yang dihapalkan dan dibaca oleh jutaan Muslim di dunia, sehingga usaha-usaha pemalsuan terhadapnya sulit sekali dilakukan.

    Sulit sekali menghindari keraguan jika membicarakan masalah teologi Kristen. Hamid Fahmi Zarkasyi dalam artikel pendahuluannya yang berjudul “Memahami Barat” di Majalah Islamia Vol. III No.2 mengingatkan pembaca tentang keberadaan kaidah credo ut intellegam dalam ajaran Kristiani, yaitu kaidah yang menegaskan bahwa “saya beriman karena saya tidak mengerti”. Sebaliknya, dalam Islam, banyak sekali ditemukan penghargaan tinggi terhadap pemahaman yang menyeluruh dalam beragama (misalnya pada Q.S. Muhammad [47] : 19). Bahkan awal surah Al-Baqarah menyingkirkan semua keraguan dengan kata-kata “Kitab ini (Al-Qur’an), tidak ada keraguan padanya…”

    Oleh karena itu, dalam Islam, perlu diingat bahwa agama tidak menyediakan tempat bagi keragu-raguan. Memang ada perbedaan pendapat, namun semuanya tidak dalam masalah-masalah pokok, melainkan masalah percabangan yang tidak tercela jika terjadi perbedaan pendapat di dalamnya. Yang mengherankan, sementara Islam menawarkan kepastian dan keyakinan yang jauh dari keragu-raguan, banyak mahasiswa Muslim yang bersekolah di perguruan tinggi Islam yang mengekor begitu saja pemikiran para filsuf yang berprinsip “timbulkan semua keraguan terhadap segala ajaran”. Jadi, di hadapannya ada pilihan untuk tidak ragu dan tidak resah, namun ia memilih untuk terus hidup dalam ketidakpastian. Fenomena ini jauh lebih kompleks daripada keragu-raguan umat Kristiani terhadap Kitab Sucinya sendiri.

  3. toocool Says:
    January 7th, 2008 at 8:44 am

    Syukron Chepy Amiraga,

    Kemiripan Nabi Muhammad dan Nabi Musa juga bisa Anda lihat dalam Cita-Cita Masyarakat.

    Anda bisa melihat bahwa Nabi Musa dan Nabi Muhammad bukan sekedar tabib yang bisa menyembuhkan orang ataupun dermawan yang dapat membagi-bagikan makanan kepada ribuan orang. Tetapi Nabi Musa dan Nabi Muhammad adalah dua tokoh yang berhasil mendirikan pemerintahan Tuhan. Ajaran Islam itulah yang dibutuhkan ummat manusia. Pemimpin yang dibimbing Al-Qur`an akan dapat membimbing manusia kepada Tuhan. Tetapi pemimpin yang tidak dibimbing Tuhan, maka ia seperti orang buta yang membimbing orang buta.

    Hal yang kita butuhkan saat ini bukan sekedar harta atau pun kesehatan, tetapi nilai-nilai Ilahiyah. Kita membutuhkan teladan, yang dalam kehidupannya telah menerbitkan pemerintahan Tuhan di muka bumi. Teladan itu adalah Muhammad Rasulullah SAW.

  4. anak manusia Says:
    January 17th, 2008 at 4:02 pm

    bedanya: MUSA menyembah YAHWEH, Mohammad menyembah ALLAH

  5. anak manusia Says:
    January 17th, 2008 at 4:19 pm

    Seorang Nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka seperti engkau ini. [Ulangan 18:18]
    silakan baca: bagaimana hamran amrie menafsirkan ayat itu , di ……
    http://pedson.blogspot.com/2007/06/muslim-jadi-kristen-hamran-amrie.html

  6. toocool Says:
    January 18th, 2008 at 1:29 am

    Sekali lagi, orang Kristen menunjukkan kebodohan dan kedustaan mereka.

    Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu`jizat) kepada `Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (QS. Al-Baqarah: 87)

    Adakah dalam ayat di atas dikatakan bahwa ‘Isa putera Allah? ‘Isa putera Maryam telah diselamatkan dari penyaliban. Penyaliban adalah rencana dan keinginan Yahudi untuk membunuh ‘Isa putera Maryam seperti mana mereka telah membunuh banyak nabi dan rasul sebelumnya.

    dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa. (QS. An-Nisa: 157)

    Allah menjelaskan bahwa ‘Isa tidak disalib. Walaupun orang Kristen ngotot untuk mendukung perkataan orang Yahudi yang berakta, “Para pendahulu kami telah membunuh ‘Isa, tuhan yang disembah orang Kristen saat ini.” Tetapi Allah menyangkal pernyataan Yahudi dan Nashoro dalam hal ini dengan berkata, “Kami telah menyelamatkan ‘Isa putera Maryam.”

    Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 79)

    Dalam ayat di atas, Allah menyangkal Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) sebagai firman Allah. Sungguh mereka telah mengubah Taurat dan Injil.

    Bacalah artikel-artikel kami yang menanggapi doktrin Kristen, insya Allah, semua klaim mereka telah kami bantah.

    Musa dan Muhammad menyembah Tuhan yang sama. Yahweh atau Yaa Huwa (Wahai Dia) adalah panggilan untuk Allah. Sebagian dari ummat Islam juga masih ada yang berdzikir dengan kalimat “Yaa Huwa”. Dzikir seperti ini banyak teriwayatkan diantaranya pada tafsir Arrazi, Tafsir Bahrul Muhiith, Faidhul Qadir, Tafsir Annaisaburiy, bahwa kalimat ini dipakai oleh para ulama salaf untuk lebih khusyu memanggil nama Allah swt, yg berarti “Wahai Dia”. Mereka beranggapan bahwa ucapan : “Wahai Dia” tak pernah digunakan untuk memanggil sesama makhluk, karena ucapan “Yaa” (wahai) pastilah berhadapan dg orang yg diajak bicara : “Anta/anti/antum/antunna” (kata ganti orang kedua) tak mungkin kalimat Yaa berpadu dengan kata ganti orang ketiga, maka lafadh ini tidak terucap terkecuali untuk menafikan seluruh segalanya selain Allah swt. Lafazh YAA HUWA telah digunakan untuk memanggil Allah sejak zaman Taurat, bahkan mungkin lebih purba lagi dari zaman itu. Ada yang beranggapan bahwa Asma Allah (Ellohim) terlalu kudus untuk diucapkan, maka mereka menggunakan kata panggil “Yaa Huwa” sebagai gantinya, karena kata panggil ini, sebagaimana keterangan di atas, tidak pernah digunakan untuk memanggil sesama makhluq. Wallahu a’lam.

  7. IBNUISA Says:
    February 13th, 2008 at 3:24 am

    Inilah Kebenaran .. !!
    MENGUNGKAP FAKTA, ANALISIS ILMIYAH, MEMBONGKAR KESESATAN & KEBOHONGAN.
    http://mengenal-kristen.t35.com/
    http://pengikut-setia.blogspot.com

    KESAKSIAN, PENGAKUAN AKAN KEBENARAN
    http://zaman-akhir.blogspot.com
    http://muallaf.com

    Download KOmbat Kit menghadapi para Penginjil
    http://guidedways.com/mobile/dawahkit/download_dawahkit.php

  8. adi isa Says:
    March 14th, 2008 at 6:34 am

    injil johanes 20:17 “Jangan pegang Aku,” kata Yesus kepadanya, “karena Aku belum naik kepada Bapa. Tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku, dan beritahukanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku naik kepada Bapa-Ku dan Bapamu, Allah-Ku dan Allahmu.”

    apakah ayat ini masih kurang jelas?
    tidak terang benderang???????????

    bapa? siapa bapaku dan bapamu itu?
    ALLAH ku dan ALLAH mu?

  9. saya Says:
    March 22nd, 2008 at 7:41 pm

    saya juga jadi bingung, mengapa kita selalu membuat suatu perbandingan yang jauh dari pikiran kita, saya Kristen, kita hanya bisa mencari dan mencari kesalahan, Kekurangan tanpa pernah mengetahui yang sebenarnya. Mungkin Islam sendiri akan menunjukkan kehebatan Alquran. Tapi saya sebagai Anak Tuhan Yesus dan semua manusia yang Mengenal Tuhan Yesus dalam dirinya penuh dengan KASIH, bagaimana dengan Muhammad yang membenarkan membunuh orang? Jihad? namun kami bangga sebagai umat Kristen kami punya BAPA yang suci, emang Tuhan Yesus bukan pendiri, atau pembuat suatu Hukum akan tetapi Tuhan Yesus datang untuk mereka yang sesat. Terima Kasih

  10. admin Says:
    March 23rd, 2008 at 3:01 am

    Jihad merupakan membunuh tanpa alasan?
    Bukankah Nabi Musa, Nabi Daud, dan Nabi-Nabi lainnya juga berjihad melawan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah?
    Kristen agama kasih?
    Read these articles please!
    Siapa Sebenarnya yang Mengajarkan Kekerasan dan Radikalisme?
    Hitler Penganut Katholik Roma
    Muslimin Barbarian

  11. adi isa Says:
    March 27th, 2008 at 5:04 am

    @saya,
    maksudnya itu, kalau benar yesus itu tuhan, kanapa ada bapaku dan bapamu, allah ku dan allah mu,
    jadi semua manusia tidak terkecuali yesus, punya tuhan, so, yesus berati bukan tuhan,
    kalau merujuk dari ayat johanes tersebut…………
    masalah percaya anda itu anak tuhan yesus, yo well come lah……..

  12. Dan Says:
    May 11th, 2008 at 4:12 pm

    Buat saudara - saudaraku, sudahlah kita nggak usah saling cari - cari kesalahan. Memang keyakinan kita berbeda, saya seorang Kristen. Buat saudara - saudaraku Kristen yang lain, lakukan aja yang sudah Tuhan Yesus perintahkan. Kasih adalah yang terbesar, kita nggak perlu berdebat mengenai apa - apa, biarkan Roh Kudus yang bekerja. Saya hanya percaya bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus, itu bukan hasil jerih payahmu sendiri, namun itu adalah anugerah

  13. dody Says:
    May 23rd, 2008 at 1:16 am

    sebenarnya isa almasih itu artinya penyelamat yang turun dari surga…
    lalu isa itu adalah hamba Allah yang artinya sama seperti ALLAH sendiri, demikian pengakuanNya dalam injil yohn 14:6 berkata Aku adalah JALAN, KEBENARAN dan HIDUP.
    karena ada ayat tersebut genaplah menurut kepercayan org yahudi bahwa Yesus yang adalah Tuhan Allah ku dan mu, memang sudah ada…..
    AMEN…..

    So, why Jesus claim that Father is his God? Jesus just a servant. He isn’t God.

Comments