Ucapan Mempengaruhi Partikel
By hotarticle | July 12, 2008
Assalamu’alaikum warohmatullallhi wabarokaatuh. Hamdan li Robbin Khosshona bi Muhammadin. Wa anqodznaa bi dzulmatiljahli waddayaajiri. Alhamdulillahilladzii hadaanaa bi ‘abdihilmukhtaari man da’aanaa ilaihi bil idzni waqod naadaanaa labbaika yaa man dallanaa wa hadaanaa. Shollallahu wa sallama wa baarok’alaih
Alhamdulillahilladzi jam’anaa fi hadzalmahdhor, Limpahan puji kehadirat Allah, dengan terpanggilnya jiwa untuk menyebut nama Allah, limpahan puji kehadirat Allah, Maha Raja langit dan bumi, yang selalu mengizinkan bibir pendosa untuk terus menyebut nama Allah, mengizinkan jiwa yang penuh kegelapan dan kesalahan untuk memanggil namanya, untuk meminta pengampunan, dan pengampunannya adalah gerbang terluas di alam semesta, Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, melebihi semua pemilik sifat kasih sayang, Allah, Allah SWT Maha mendahului hajat dan kebutuhan hambanya untuk melewati kehidupan, sebelum hambanya meminta
Kedermawanan Ilaahi yang tertutup dengan tabir-tabir yang tiada akan terbuka terkecuali bagi mereka yang mempelajarinya, bahwa didalam kehidupannya, didalam menopang hari-harinya, ia membutuhkan bantuan dari Allah siang dan malam setiap waktu dan kejap, bantuan terus mengalir dari gerbang kedemawanan-Nya SWT, dan hamba-hambanya terus melupakannya dan berpaling dari kelembutan-Nya, demikian kasih sayang Ilaahi yang melebihi segenap kasih sayang, yang keindahan-Nya adalah awal dari segala keindahan, yang dengan mengingat dan merindukan-Nya terangkatlah derajat dan berjatuhanlah dosa-dosa, cahaya bulan purnama yang demikian indah, yang itu adalah mengambil dari rahasia cahaya keindahan Allah ”yaktabisul-badru min sanaahu” dan bulan purnama itu mengambil dari cahaya keindahan Robbul’alamin, demikian indahnya Allah SWT, menyinari jiwa hamba-hambanya yang merindukan-Nya.
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Sungguh kedatangan sang Nabi pembawa rahmat adalah menuntun kita kepada kesejahteraan dunia dan akhirat, bimbingan yang paling sempurna, yang dengan itu membuka rahasia kedermawanan Ilaahi, membuka rahasia keluasan kebahagiaan yang milik Allah, yang Maha mampu merubah kejadian dan keadaan, yang Maha berkuasa dalam setiap tempat dan keadaan, Allah.
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Ingin saya sampaikan sedikit, ketika salah seorang saudara kita, mengadakan satu tes percobaan, ia menaruhkan dua buah gelas yang berisi nasi yang sudah matang, yang satu ditutup, ditaruh ditempat terpisah, diucapkan padanya ucapan yang baik-baik, kasih sayang, terima kasih dan lain sebagainya dari ucapan baik, yang satu lagi diisi nasi yang sama, ditutup dan ditaruhkan ditempat yang terpisah dan diucapkan padanya caci maki, ucapan-ucapan buruk, umpatan, cacian, maka dilihat setelah satu minggu, terlihatlah gelas yang terisi nasi yang diucapkan padanya kalimat-kalimat indah, tetap pada posisinya tidak berubah, tapi yang dicaci maki dan diumpat, berubah menjadi hitam, sebagian membusuk dan basi, sangat busuk baunya, demikian percobaan yang bisa kalian coba dirumah kalian masing-masing, disinilah kita memahami bahwa ucapan-ucapan, emosi dan reaksi jiwa keturunan Adam mempengaruhi alam semesta, hal ini telah ditemukan sebelumnya oleh Prof. Masaru Emoto pada air, telah saya jelaskan beberapa hari yang lalu, dan sekarang percobaan itu bisa diuji oleh siapapun, betapa benda-benda mati itu berubah menjadi lebih buruk dengan ucapan umpatan dan caci maki dan dosa tentunya, sedangkan ucapan-ucapan baik malah mengawetkan nasi tersebut hingga bertahan seminggu belum berubah warnanya.
Demikian hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Ketika salah seorang isteri sang Nabi, terlepas ucapannya menghina seorang wanita, dengan mengatakan dia itu pendek, maka berkata Rasul, ucapanmu itu, umpatanmu yang kau tidak sadari itu, jika ditaruhkan dilautan, akan berubah lautan itu warnanya, berubah menjadi air yang busuk dan menjijikkan, satu ucapan umpatan keturunan Adam, kita berkata; barang kali hal itu hanyalah tahdzir, hanya peringatan, ternyata benar, umpatan dan cacian merubah benda-benda, menjadi lebih buruk dan lebih busuk dan menjijikkan, menunjukkan perbuatan keturunan Adam sebagai khalifah berpengaruh di alam semesta.
Demikian hadirin hadirot, bagaimana dengan jiwa kita, makanan kita dan rumah kita dan harta kita dan rumah tangga keluarga kita, yang dipenuhi dengan dosa-dosa ini, bagaimana rumah kita yang sepi dari kalimatullah, sepi dari al-Quranul karim, rumah-rumah kita terus senang diperdengarkan ucapan-ucapan orang-orang yang tidak pernah mengenal Allah, ketika ia mencari ketenangan, ia cari wajah orang-orang yang tidak pernah sujud kepada Allah, ia melihatnya dan jiwanya tenang, jika ia dalam keadaan sumpek dan gundah, dicari suara orang-orang yang tidak pernah menyembah Allah, dengan itu ia mencari ketenangan, bukankah ini merupakan satu hal yang membuat kita semakin terpuruk, dalam kesialan, kesulitan, kegundahan, permasalahan.
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Telah jelas benda-benda ini berubah dengan dosa-dosa keturunan Adam, dan juga dengan pahala amal ibadah mereka, maka kita mesti memahami untuk semakin merujuk diri kita, memperindah diri kita dengan tuntunan manusia yang membawa seindah-indah tuntunan, sayyidina Muhammad SAW wa barak’alaih, sebagaimana munajat-munajat yang keluar dari sanubari beliau, muncul dari bibir beliau, menuntun keturunan Adam kepada kedekatan kehadirat Ilaahi, menuntun mereka kepada puncak kemuliaan, sampailah kita di malam hari ini, kepada sayyidul istighfar, raja dari semua istighfar, dimana Rasul SAW mengajarkan, ucapan-ucapan yang dipenuhi asmara dan cinta kepada Allah, ucapan-ucapan indah yang membuka rahasia kebahagiaan yang kekal, Allahumma anta Robbii, Robbii, apa artinya Robb? Mempunyai tiga makna artinya Robb, malik yaitu raja, maalik dan yang memiliki, yang ketiga Robb itu adalah yang mengasuh, yang mengasuh semua hambanya, yang mengasuh mereka dari sejak mereka di alam rahim hingga mereka wafat.
Allah yang mengasuhnya dengan alam semesta, maka ketika kita memanggil Allahumma anta Robbii, wahai Allah Engkaulah yang memiliki diriku, memang tidak ada manusia yang memiliki dirinya sendiri, karena dia tidak pernah membeli dirinya sendiri dari siapapun, tidak pernah pula bisa menciptakan dirinya sendiri, dirinya sendiripun milik Allah, orang yang memahami kelembutan dan keindahan Allah semakin gembira jika mengingat ini, ternyata diriku ini milik-Mu wahai yang Maha Pengampun, ternyata diriku ini adalah milik-Mu wahai yang Maha Dermawan, wahai yang Maha berkasih sayang, berarti aku ini dekat dan Kau telah mengenalkan diri-Mu al-qorib, yang Maha Dekat.
Allahumma anta Robbii, wahai yang memilikiku, wahai Allah Engkaulah yang memiliki aku, Engkaulah yang memelihara aku, “laa ilaaha illa anta” tiada Tuhan selain-Mu, kholaktanii; Engkaulah yang menciptakan aku, kita renungkan ini kalimat-kalimat, akan mengalir air mata kerinduan terhadap indahnya dan kasih sayang Allah kepadamu, betapa indahnya hubungan kita dengan Allah, anta Robbii kholaktanii wa ana ‘abduka, aku ini hamba-Mu, indah sekali ini percakapan sang Nabi kepada Allah, yang diajarkan kepada kita, wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, dan aku ini dalam janji kepadamu dan dalam perjanjian yang harus ku selesaikan dan harus ku tunaikan “mastatho’tu” tapi segenap kemampuanku, barangkali ada kelemahanku dalam menjalankan janji setiaku, dalam kalimat “laa illaa ha illallah” maafkan aku, lalu apa wahai sang Nabi, wahai sang pemilik jiwa terindah, wahai yang seindah-indah mengajarkan doa, “a’uudzubika min syarri maa shona’tu” aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang kuperbuat.
Perbuatan buruk itu hadirin, banyak efeknya, Rasul berlindung kepada Allah dari pada efek setiap perbuatan buruk, pertama dosa, menjauhkan kita dari Allah, menjauhkan kita dari keluasan rizki, menjauhkan kita dari surga, menjauhkan kita dari pengabulan doa, menyempitkan jiwa kita, karena semakin banyak dosa, semakin gelap jiwa ini, “a’uudzubika min syarri maa shona’tu” aku berlindung dari buruknya apa yang kuperbuat, sudah ia jadikan Allah membentengi semua keburukan apa yang ia perbuat, dengan itu ia membuka pengampunan Ilaahi, dengan itu dia meminta terbukanya dirinya dari segala yang menutupnya sebab dosa-dosanya, ketika semua perbuatan buruknya itu ia rindukan kepada Allah, maka tidak akan membawa mudharat baginya dunia dan akhirat, “abuu,u laka bi ni’matika ‘alayya” dan aku ini tahu wahai Allah betapa nikmat yang Kau limpahkan kepadaku, “wa abuu-ulaka bi dzanbii” dan aku tahu bagaimana dosa-dosaku, lalu apa wahai Robb, lalu apa wahai sang Nabi yang mengajarkan kami doa-doa yang indah, “faghfirlii” baru minta ampunan dosa, dari tadi adalah ucapan-ucapan yang menghubungkan cintanya dengan Allah, menunjukkan betapa besar harapan kita kepada Allah, baru setelah itu kembali kepada hajat yang dibutuhkan “faghfirlii” satu kalimat singkat yang bila Allah berikan, selesai sudah permasalahan kita dunia dan akhirat.
Hadirin, jika masih ada satu dosa kita yang belum Allah ampuni, belum akan kita menginjak surga, lalu dimana tempat kita? kalau masih ada satu dosa yang terkecil, yang masih belum Allah maafkan, tidak akan sampai kita kedalam surga-Nya Allah SWT, lalu dengan apa? dengan pengampunan, bagaimana caranya? doa yang diajarkan sang Nabi, salah satu pintu menuju pengampunan Ilaahi, “fainnahuu laa yaghfirudz-dzunuuba illa anta” sungguh tidak ada yang bisa memberikan pengampunan terkecuali Engkau wahai Allah, wahai penciptaku, wahai yang memiliki diriku, wahai yang aku adalah hamba-Mu, wahai yang menciptakan kerajaan langit dan bumi, wahai yang mencipta hewan dan tumbuhan, wahai yang mencipta bumi dan langit, wahai yang mencipta surga dengan segala keindahan, wahai yang mengundang keturunan Adam untuk sampai kepada istana-istana yang kekal dan abadi, Allah.
Demikian indahnya dan mesranya hubungan sang Nabi kepada Allah, dan ini diajarkan sang Nabi kepada kita, seraya bersabda: “barang siapa yang mengucapkan ucapan ini “muuqinan bihaa” dengan ucapan yang giat, dalami maknanya, bukan hanya sekedar asal ucap, tapi ia dalami maknanya, ia membacanya diwaktu siang hari disuatu hari, maka Allah “ketika ia wafat, sebelum terbenam matahari ia wafat”, maka ia akan masuk ke dalam surga-Nya Allah” jika ia membacanya dimalam hari, lalu ia wafat sebelum terbit matahari, Allah menjadikannya ahli surga juga, kenapa? kita lihat betapa cepatnya pengampunan Allah dan rahmatnya Allah datang dengan istghfar ini, bukan tunggu 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun, untuk masuk kedalam surga jika ia wafat, jika ia wafat dihari itu, ia sudah masuk kedalam surganya Allah SWT, lalu mana amalnya? lalu mana ibadahnya?
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah, ucapan-ucapan seperti ini, yang didalami makna kedalam hati kita, akan membangkitkan seluruh keinginan kita untuk melakukan hal-hal yang menjadi perintah Allah dan mempermudahnya, membuat jiwa kita selalu ingin berbuat yang taat, membuat jiwa kita selalu enggan berbuat dosa, hingga jika ia wafat, Allah sudah pastikan ia ahli surga, ini ucapan singkat, berapa detik tadi kalau kita baca, tadikan kita bicara bagaimana nasi saja berubah menjadi buruk kalau dicaci maki, benda-benda, barangkali rumah kita, rumah tangga kita, harta kita, pekerjaan kita ini, barangkali penuh cacian, penuh sangka buruk, penuh perbuatan yang buruk, sangka buruk pada makhluk, sangka buruk pada Allah, dusta dan lain sebagainya, menjadi buruklah kehidupan kita, tapi dengan kalimat-kalimat pendek ini, kesemuanya rata dengan rahmat Ilaahi Jalla wa ‘ala, tuntunan Nabiyyuna Muhammad SAW wa barak ‘alaih.
Berubah keadaan yang demikian buruk menjadi keadaan yang paling indah, adakah lagi keadaan yang lebih indah selain wafat dijamin surga oleh Nabi Muhammad SAW, inilah, merubah keadaan yang demikian buruk menjadi hari yang indah sepanjang hari, dibaca dimalam hari menjadi malam yang indah sepanjang malam, demikianlah tugas rahmatan lil’alamiin sayyidina Muhammad SAW wa barak’alaih, seraya bersabda diriwayatkan didalam Shohih Bukhori: “wallah inni la astaghfirullah wa atuubu ilaih fil-yaumi aktsar min sab’iina marroh” demi Allah, aku beristighfar kepada Allah SWT dalam satu hari dan bertaubat kepada Allah lebih dari 70 kali setiap harinya” ini orang yang ma’sum, yang tidak mempunyai dosa, yang tidak pernah berbuat kehinaan dan kesalahan, hadirin hadirot kita bertanya, bagaimana terhadap diri kita? kenapa sang Nabi beristighfar dan bertaubat, karena beliau tahu betapa indahnya anugerah Allah pada orang yang beristighfar dan bertaubat, oleh sebab itu beliau ingin dalam kelompok mereka, padahal beliau sudah orang yang paling mulia, tapi beliau tahu betapa agungnya kemuliaan orang-orang yang bertaubat dan beristighfar, jangan tertipu dengan bisikan syaithon yang berkata; hati-hati taubat nanti kau berdosa lagi, kau berarti khianat pada taubatmu, hadirin itu bisikan syaithon, karena ketika kita bertaubat, kita meminta kekuatan kepada Allah, Robbi aku telah banyak berbuat dosa, mungkin besok berbuat lagi, tapi aku tidak mau menunda taubatku dan aku ingin sekarang aku bertaubat, beri aku kekuatan jika seandainya aku terjebak lagi dalam dosa, beri aku kekuatan untuk bertaubat lagi, Allah tidak bosan dengan perbuatan taubat, Allah tidak akan pernah bosan, kitalah yang akan bosan, orang berkata; percuma taubat lagi, nanti ma’siat, taubat lagi, tidak percuma demi Allah.
Allah SWT berfirman didalam hadits qudsi riwayat Shohih Muslim: ketika Allah melihat seorang hambanya berbuat dosa, lalu ia memohon ampun dan taubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, bukan taubat main-main, maka Allah SWT berkata; hambaku telah berbuat dosa dan ia tahu Tuhannya Maha Pengampun Ku ampuni dosanya, ia berbuat dosa lagi setelah taubatnya, lalu ia taubat lagi, Allah jawab lagi; hambaku ia tahu memiliki Tuhan yang Maha Pengampun, Ku ampuni dosa-dosanya, karena apa? karena jiwa yang betul-betul bertaubat kepada Allah SWT, berkali-kali pun, “innallaha la yamil innakum antum tamilluu” au kama qol, riwayat Shohih Bukhori; “sungguh Allah itu tidak pernah bosan tapi kalianlah yang akhirnya menemui kebosanan”
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Nabi kita ini seindah-indahnya manusia, kenali ajaran beliau, kenali ucapan-ucapan beliau, akan merubah keadaan kita semakin indah, semakin sejahtera, semakin bahagia.
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah. Diriwayatkan didalam Shohih Bukhori Rasul SAW berdoa, salah seorang shahabat mendengar doa sang Nabi dimalam hari, ketika beliau selesai melakukan sholat qobliyah shubuh, beliau berdoa sebelum melakukan sholat shubuh, apa doanya: “Allahummaj-‘al fii qolbii nuuroo, wa fii bashorii nuuroo, wa fii sam’ii nuuroo, wa an yamiinii nuuroo, wa an yasaarii nuuroo, wa amamii nuuroo, wa kholfii nuuroo, wa fauqii nuuroo, wa tahtii nuuroo” demikian riwayat Shohih Bukhori, dan lafadznya berbeda-beda dalam riwayat ini.
Ada beberapa riwayat, dan Imam Bukhori menukil lagi salah satu dari riwayat lain, dalam hadits yang sama, Rasul menyebut: wa fii damii nuuroo, wa fii basyarii nuuroo, wa fii ‘ashobii nuuro, wa fii sya’rii nuuroo”, yaitu doanya apa, Allahummaj-‘al fii qolbii nuuroo” wahai Allah jadikanlah didalam hatiku cahaya, Allahummaj-‘al fii qolbii nuuroo” jadikanlah didalam jiwaku cahaya, cahaya apa? cahaya Allah yang menerbitkan seluruh kebahagiaan, yang menerangi seluruh keadaan, yang meruntuhkan segala dosa, yang membuka seluruh rahmat dunia dan akhirat, cahaya Allah, beliau meminta agar Allah menerangi jiwa beliau padahal jiwa beliaulah yang paling terang benderang dengan cahaya Allah, demikian beliau berdoa; Allahummaj-‘al fii qolbii nuuroo, cukupkah? belum cukup, “wa fii bashorii nuuroo” dan dipenglihatanku cahaya, ”wa fii sam’ii nuuroo” dipendengaranku cahaya, , “wa an yamiinii nuuroo, wa an yasaarii nuuroo” dan jadikan cahaya di kananku, cahaya di kiriku “wa amamii nuuroo, wa kholfii nuuroo, didepanku cahaya, dibelakangku cahaya, “wa fauqii nuuroo, wa tahtii nuuroo” diatasku cahaya, dibawahku cahaya” dan diriwayatkan didalam riwayat lain beliau menyebut, wa fii damii nuuroo, wa fii basyarii nuuroo, wa fii ‘ashobii nuuro, wa fii sya’rii nuuroo, jadikan cahaya di darahku, jadikan cahaya di tulang-tulangku, jadikan cahaya diurat-urat tubuhku, jadikan cahaya dirambutku, jadikan cahaya pada darah dan kulit dan dagingku, waj’alnii nuuroo” jadikan untukku cahaya, demikian indahnya lantunan doa dari jiwa yang paling bercahaya dan terang benderang, sayyidina Muhammad SAW, demikian doa beliau sebelum terbitnya matahari, matahari yang terbit membawa cahaya dimuka bumi, beliau telah meminta cahaya menerangi jiwanya, menerangi panca inderanya, menerangi seluruh tubuhnya, warisi kemuliaan sunnah sayyidina Muhammad.
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Rasul SAW mu’jizatnya tetap tidak akan pernah berhenti, sunnah-sunnah beliau adalah rahasia mu’jizat beliau, hidupkan rahasia mu’jizat itu di dalam hari-hari kita, karena sunnah beliau juga adalah mu’jizat sang Nabi, sedemikian banyak sunnah-sunnah beliau membawa keberkahan dunia dan akhirat, itupun mu’jizat beliau, oleh sebab itu, kita bukan orang yang bisa mempunyai mu’jizat, tetapi warisi mu’jizat sang Nabi pada sunnah-sunnah beliau, kita akan lihat bagaimana perbedaannya orang yang meminta kepada Allah dengan sunnah sang Nabi, meminta cahaya dihatinya, meminta cahaya dipanca inderanya, meminta cahaya diseluruh sel tubuhnya, meminta cahaya pada darahnya, pada seluruh apa-apa yang ia miliki pada tubuhnya, kiri kanan, atas bawah, dan diberikan padanya cahaya, inilah doa yang diajarkan Nabimu.
Hadirin hadirot, betapa ruginya kita yang tidak mau mewarisi cahaya yang dibawakan oleh sang Nabi, doa ini digelari oleh para ulama, doa cahaya, inilah doa dari yang paling indah, dari sang Nabi meminta cahaya kepada Allah SWT.
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.Rasul SAW adalah sosok manusia yang paling ramah dan paling indah, semua tuntunan beliau membawa keberkahan, beliau, perlu saya sampaikan juga bahwa hal yang sunnah bagi setiap orang itu merubah namanya, jika namanya mempunyai makna yang kurang baik, jika namanya maknanya sudah baik tidak perlu dirubah, tapi kalau namanya bermakna kurang baik, sunnah dirubah.
Diriwayatkan didalam Shohih Bukhori, Rasul SAW, menemui salah seorang yang berkata; namanya Huzn artinya sedih, namanya sedih, Rasul SAW berkata ; “bal anta sahl” engkau ini jangan Huzn namamu, tapi Sahl, sahl itu indah dan mudah, ganti namamu dengan indah dan mudah, “sahl atau sahlun”, orang itu belum mengerti makna mu’jizat sunnah sang Nabi, seraya berkata; aku tidak mau mengganti nama yang sudah diberikan oleh ayah ibuku, salahnya, ketaatannya kepada ayah ibu itu benar, tapi kalau sudah perintah sang Nabi, Nabi mengatakan padanya ganti namamu dengan “Sahlun” mudah dan luas, ia tetap berkata; aku tidak mau menganti nama yang telah diberikan oleh ayah ibuku, maka berkata Anas bin Malik; sepanjang usia orang itu dirundung kesedihan hingga ia wafat, kenapa? karena ia mengingkari hal-hal yang telah diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW, sepanjang usianya hingga ia wafat ia dirundung kesedihan.
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Rasul SAW bersabda: “sammu bi ismii wa laa ta,tanuu bi qudyatii” kalau mau beri nama, beri nama seperti namaku kata Rasulullah, (Muhammad) wa laa ta,tanuu bi qudyatii” jangan pakai gelar yang diberikan kepadaku yaitu (Rasulullah SAW), didalam riwayat lain (Abu Qosim), tapi yang disunnahkan menamai dengan nama beliau SAW, semampu kita, jika punya keturunan atau teman yang ingin mempunyai keturunan, ingat sunnah sang Nabi, warisi keberkahan nama Muhammad SAW.
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.
Kita bermunajat kepada Allah SWT, semoga Allah SWT membangkitkan rahasia kemuliaan dalam diri kita, Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalali wal-Ikrom, kami bermunajat kepada-Mu demi kebangkitan muslimin muslimat, untuk lebih banyak lagi yang mencintai sunnah Nabi-Mu Muhammad SAW, Ya Robb kami mengadukan kepadanya gelapnya hari-hari kami dengan kesulitan, dengan dosa, dengan kegundahan, dengan kesedihan, gantikan dengan cahaya kebahagiaan.
Ya Rahman malam hari ini kami mendengar betapa indahnya doa istighfar, malam ini kami mendengar betapa indahnya doa cahaya, maka Robbi Robbi terangi jiwa kami dengan cahaya, terangi penglihatan kami dengan cahaya, terangi pendengaran kami dengan cahaya, terangi depan kami dengan cahaya, terangi belakang kami dengan cahaya, terangi seluruh penjuru kami dengan cahaya, terangi darah kami dengan cahaya, terangi tulang tubuh kami dengan cahaya, terangi pemikiran kami dengan cahaya, terangilah hari-hari kami dengan cahaya, Ya Rahman cahaya keindahan-Mu, wahai yang menamakan diri-Mu An-Nuur, Maha Bercahaya, terangilah hari-hari kami, terangilah sakaratul maut kami, terangi kubur kami kelak, dan bangkitkan kami di yaumil qiyamah bersama yang terang benderang, bersama orang-orang yang bersama Rasulullah, sebagaimana firman-Mu: “yauma laa yukhzillaahunnabiy walladziina amanuu ma’ahuu nuuruhum yas’a baina aidiihim wa bi aimaanihim” hari dimana Allah tidak mengecewakan sang Nabi, hari kiamat Allah tidak akan membuat beliau sedih, tidak akan pula mengecewakan para pengikutnya “walladziina amanuu ma’ahuu nuuruhum yas’a baina aidiihim” cahaya mereka menerangi seluruh tubuh mereka, menerangi depan belakang mereka, demikian keadaan orang-orang yang bersama Rasulullah kelak.
Robbi pastikan nama kami tertulis bersama mereka, pastikan wajah kami bercahaya terang benderang di yaumil qiyamah, sebagaimana firman-Mu: “wujuuhuyyaumaidzin naadhiroh, ilaa robbiha naazhiroh” wajah-wajah yang terang benderang bercahaya kata Allah di yaumil qiyamah, “ilaa robbiha naazhiroh” memandang kepada Tuhannya yang Maha bercahaya, Robbi pastikan wajah kami bercahaya dan memandang indahnya cahaya-Mu ya Allah, Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Allahu Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalali wal-Ikrom Ya Dzathouli wal-in’am, hadirin hadirot, disaat Allah mengumpulkan mu’minin mu’minat, Allah membukakan dan menyikap cahaya keindahan Dzat-Nya, maka mereka semua bersujud kehadirat Allah, Allah SWT katakan kepada mereka: idfau’ ru,uusakum ‘ibaadii undzuru ilaiha” angkat kepala kalian dari sujud kalian wahai hamba-hamba-Ku, pandanglah keindahan Dzat-Ku, disaat itu semoga nama kita akan bersama mereka yang memandang indahnya Allah, amin Allahumma amin.
Hadirin hadirot, disaat jiwa manusia yang terakhir keluar dari api neraka, tidak ada lagi orang lain yang keluar dari api neraka terkecuali dia yang terakhir, entah ratusan ribu tahun ia melewati gelapnya api neraka, merintih , mati, dan dihidupkan kembali dengan kulit yang baru, terbakar dan hangus lagi dan lagi dan lagi, entah ratusan ribu tahun ia dikeluarkan, dan Allah memperlihatkan keindahan Dzat-Nya kepada hamba ini, lalu ia ditanya; pernahkah engkau merasakan siksa api neraka? berapa lama wahai hambaku? hamba itu berkata; aku tidak pernah merasakan siksa neraka Robb, hilang seluruh kepedihannya, terbakar dan hangus selama ribuan tahun, ketika memandang indahnya dzat Robbul’alamin, ingat detik-detik perjumpaanmu dengan Allah disaat itu.
Hadirin hadirot yang dimuliakan Allah.Warisi kemuliaan sunnah Nabi kita Muhammad, kita doakan pula tamu-tamu kita, para Habaib kita yang akan kembali ke wilayah Malang Jawa Timur, semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada mereka, semoga kehidupan mereka dipenuhi keberkahan dan rahmat, kehadiran mereka disini membawa keberkahan bagi kita, juga untuk para tamu-tamu kita dari Singapura, bapak-bapak yang kita muliakan, saudara-saudara yang kita muliakan dan personil dari Singapura, limpahkan Robbi keberkahan atas mereka, mereka telah mengunjungi para wali-wali Allah yang telah wafat dan sekarang mereka kumpul bersama kami, pastikan kami semua dan mereka akan berkumpul kelak bersama Nabi Muhammad SAW, limpahkan keberkahan bagi yang kita muliakan da’i ilallah, seorang penyeru ke jalan Allah, pejuang dalam dakwah Nabi, KH. Ust. Hasan Saiful matta annallahu bihi, agar Allah melimpahkan keberkahan pada beliau, menyingkirkan seluruh fitnah yang datang pada beliau, dan dijadikan beliau ini adalah salah satu dari pada panji Nabi Muhammad SAW, terima kasih tamu-tamu yang hadir dari Malang, dari Singapura, dan semua hadirin hadirot yang hadir, juga para Habaib kita, wal-afu minkum wassalamu’alaikum wr wb.
(Taushiyah Habib Munzir bin Fuad Almusawa di Masjid Al-Munawar pada 2 Juni 2008)
Topics: Ibadah dan Hukum, Kenali Nabimu | 1 Comment »
Hadits dan Atsar Mengenai Surah Yasin
By hotarticle | July 12, 2008
oleh: Moulana Muhammad ibn Moulana Haroon Abbassommar, ulama spesialis dalam Hadits di Afrika Selatan
Sayyiduna Ma’aqal ibn Yassaar (radiyAllau ‘anhu) meriwayatkan bahwa Rasulullah (sallAllahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Yasin adalah qalbu dari Al Quran. Tak seorangpun yang membacanya dengan niat menginginkan Akhirat melainkan Allah akan mengampuninya. Bacalah atas orang-orang yang wafat di antaramu.” (Sunan Abu Dawud). Imaam Haakim mengklasifikasikan hadits ini sebagai Sahiih (Autentik), di Mustadrak al-Haakim juz 1, halaman 565; lihat juga at-Targhiib juz 2 halaman 376.
Imaam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dengan sanad beliau dari Safwaan bahwa ia berkata, “Para ulama biasa berkata bahwa jika Yasin dibaca oleh orang yang tengah maut, Allah akan memudahkan maut itu baginya.” (Lihat Tafsiir Ibn Katsir juz 3 halaman 571)
Sayyiduna Jund ibn Abdullah (radiyAllahu ‘anhu) meriwayatkan bahwa Rasulullah (sallAllahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Barangsiapa membaca Surah Yaseen pada malam hari dengan niat mencari ridha Allah, dosa-dosanya akan diampuni.” (Muwattha’ Imaam Maalik). Imaam ibn Hibbaan mengklasifikasikan hadits ini sebagai Sahiih, lihat Sahiih ibn Hibbaan Juz 6 halaman 312, ( lihat juga at-Targhiib juz 2 halaman 377).
Riwayat serupa oleh Sayyiduna Abu Hurayrah (radhiyAllahu ‘anhu) juga telah dicatat oleh Imaam Abu Ya’ala dalam Musnad beliau dan Hafiz ibn Katsir telah mengklasifikasikan rantai periwayatnya (Sanad) sebagai “Baik” (Hasan) (lihat Tafsiir Ibn Katsiir Juz 3 halaman 570).
Berdasarkan riwayat ini, Allamah Munaawi (rahmatullah ‘alayh) telah menganalisis bahwa barangsiapa hendak membaca Surah Yasin di pagi hari, juga akan diampuni dosanya, Insya Allah. (Lihat kitab Faydhul Qadiir, juz 6, halaman 259).
Sayyiduna ibn ‘Abbaas (radiyAllahu ‘anhu) mengatakan, “Barangsiapa membaca Yasiin di pagi hari, pekerjaannya di hari itu akan dimudahkan dan barangsiapa membacanya di akhir suatu hari, tugas-tugasnya hingga pagi hari berikutnya akan dimudahkan pula.” (Sunaan Daarimi, juz 2, halaman 549).
Riwayat serupa juga dicatat oleh Imaam Daarimi dari Attaa’ ibn Abi Rabah.
Wallahu A’lam bissawab (Dan Allah Lebih Mengetahui)
(KMD)
Topics: Ibadah dan Hukum | No Comments »
Mana Dalilnya?
By hotarticle | July 9, 2008
Kaum sempalan sering menebarkan syubhat-syubhat kepada ummat dengan menggunakan kata-kata seperti, “Mana dalilnya?” atau “Itu bid’ah.” atau “Itu hadits palsu.” dan sebagainya. Ketahuilah, perbuatan mereka itu sangat disenangi oleh para missionaris. Karena perbuatan seperti itu akan memecah-belah ummat. Kita semua tahu bahwa ummat telah berjalan dalam sunnah-sunnah yang baik, dalam kebiasaan-kebiasaan yang baik. Namun kaum sempalan ini datang untuk menebarkan keraguan atas kebiasaan-kebiasaan yang baik ini. Mereka mengajak ummat untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang baik ini. Padahal kebiasaan-kebiasaan baik ini sangat bermanfaat untuk syiar. Betapa senangnya missionaris Kristen ketika melihat syiar Islam menjadi padam dan ummatnya terpecah-belah. Siapa penyebab semua itu? Kaum sempalan yang fanatik kepada ustadz-ustadz mereka. Jika kita tanyakan kepada mereka mana dalilnya, niscaya mereka tidak menemukan dalil kecuali dalil yang telah dipelintir tafsirannya. Atau mereka dasarkan pemikiran mereka itu kepada kata-kata ustadz mereka yang sanad ilmu dari ustadz-uztadz mereka tidak bersambung kepada salaful ummah, sehingga sering salah dalam menafsirkan ayat dan hadits. Sekarang, inilah dalil kami.
Membaca Yaa Siin
“Sesungguhnya setiap sesuatu ada hatinya, dan sesungguhnya hati al Quraan adalah (Yaasin), barang siapa yang membacanya; seolah-olah dia telah membaca al Qur`aan sepuluh kali.”
Hadits ini dikeluarkan oleh at Tirmidziy (4/46), ad Daarimiy (2/456) dari jalan Humeid bin `Abdirrahman dari al Hasan bin Shoolih dari Haarun Abi Muhammad dari Muqaatil bin Hibbaan dari Qataadah dari Anas marfuu`an. Berkata at Tirmidziy: “Hadist ini hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalan ini, sedang Haarun abu Muhammad majhuul (tidak dikenal), pada bab ini juga dari Abu Bakr as Shiddiiq, tidak shohih, sebab sanadnya lemah, dan pada bab ini juga dari Abi Hurairah radhiallahu `anhu.”
Jadi hadits tersebut memanglah hadits dha’if atau lemah, tetapi tidak sampai maudhu’ atau palsu. Bahkan At-Tarmidzi mengatakan bahwa hadits itu hasan gharib. Dalam hal fadhilah atau keutamaan suatu amal, hadits dha’if masih dapat dipakai. Karena hadits dha’if itu masih dianggap hadits atau perkataan Rasulullah SAW, hanya saja jalur periwayatannya kurang kuat. Hadits dha’if ini masih diambil sebagai hadits. Barangsiapa menyebut hadits dha’if sebagai hadits palsu, berarti ia telah mendustakan Rasul. Hadits dha’if adalah perkataan Rasul, barangsiapa mendustakannya, berarti mendustakan perkataan Rasul. Barangsiap mendustakan perkataan Rasul, maka bersiaplah atas tempatnya di neraka. Jika mereka mendustakan hadits ini karena ustadz-ustadz mereka berkata demikian, maka bersiaplah untuk masuk ke dalam neraka bersama ustadz-ustadz mereka. Bersiaplah mereka untuk masuk ke neraka bersama orang-orang yang mereka ikuti secara buta.
Membaca Qur`an Di Pequburan
Dari ibnu ‘Umar : Saya mendengar Rasulallah SAW berkata : “Jika seseorang diantara kalian meninggal, maka jangan ditahan (diinapkan). Dan cepatlah dimakamkan. Bacakanlah di quburnya itu surat fatihah di atas kepalanya. Adapun di kedua kakinya, bacakanlah akhir surat Al-Baqarah.” [Ditakhrij oleh Thabrany dan Baihaqi dalam bab Sya’bul Iman, dan isnadnya hasan sebagamana dikatakan oleh al-Hafizh dalam Fat-hnya (Fat-hul Mughits). Dan dalam satu riwayat dengan perkataan: “bifatihatil baqarah” (5 ayat pertama Al-Baqarah) sebagai pengganti dari “fatihatilkitab” (Al-Fatihah).]
Apa dalil mereka yang mengatakan bahwa membaca Al-Qur`an di qubur itu adalah bid’ah? Mana dalil mereka? Tidak lain, dalil mereka hanyalah perkataan ustadz-ustadz mereka. Agama mereka sangatlah cocok dikatakan sebagai agama “qola ustadz”.
Dzikir Berjama’ah Secara Jahr
Sayyidina Abdullah bin Abbas ra berkata, “Sesungguhnya mengangkat suara dalam dzikir ketika orang-orang telah selesai dari shalat fardhu itu terjadi pada masa Rasulullah SAW.” [HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim]
Al-Hafizh Ibnu Hajar rah.a mengatakan dalam Fat-hul Bari, “Dalam hadits tersebut terkandung makna bolehnya mengeraskan dzikir setelah mendirikan shalat.”
Adapun hadits “Irba’uu ‘alaa anfusikum fa innakum laa tad’uuna ashomma wa laa ghaa-iba” menjelaskan larangan mengangkat suara ketika berdzikir sambil berjalan-jalan dan bukan ketika berjama’ah di suatu majelis. Jika menjahr dzikir itu di larang, lalu bagaimana dengan takbiran yang dilakukan pada hari ‘Id?
Terdapat banyak hadits yang berkenaan dengan masalah ini, diantaranya ialah sabda Rasulullah SAW, “Suatu kaum tidak berkumpul di rumah-rumah Allah (Masjid-Masjid) dan berdzikir kepada Allah Ta’ala dengan (ikhlash) mengharapkan keridhoan-Nya, melainkan Allah mengampuni segala dosa mereka dan akan merubah semua kejahatan mereka menjadi kebaikan.”
Sabdanya lagi, “Suatu kaum tidak duduk bersama-sama berdzikir kepada Allahu Ta’ala, melainkan para Malaikat mengelilingi mereka, sedang rahmat meliputi mereka, dan ketenangan turun atas mereka. Dan Allah menyebut nama mereka kepada siapa saja yang ada di sisi-Nya.”
Merayakan Maulidur Rasul
Tentang keistimewaan hari lahir Nabi saw, terdapat hadits shahih dari Abi Qatadah, beliau menceritakan bahwa seorang A’rabi (Badawi) bertanya kepada Rasulullah saw: “Bagaimana penjelasanmu tentang berpuasa di hari Senin?” Maka Rasulullah saw menjawab, “Ia adalah hari aku dilahirkan dan hari diturunkan kepadaku Al-Qur’an.” [Syarh Shahih Muslim An-Nawawi 8 / 52]
Maka merayakan dan bergembira atas lahirnya Rasul bukanlah perkara baru yang ditambah-tambahkan. Bahkan Allah menyuruh kita untuk bergembira atas karunia dari-Nya. Lahirnya Rasulullah adalah termasuk karunia terbesar bagi kita. Maka sunnahnya merayakan kelahiran Rasul tidak bisa dibantah hanya dengan perkataan ustadz-ustadz ekstrim (ghuluw). Agama kita bukanlah agama ‘qola ustadz’, tetapi ‘Qolallahu wa qolarrasul’. Dan tidak pernah Allah atau pun Rasul-Nya menyuruh kita untuk bersedih atas wafatnya Rasul kelak.
Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. [QS. Yunus: 58]
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [QS. Al-Anbiya: 107]
Pembagian Bid’ah
Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw: “Barangsiapa membuat-buat kebiasaan baru yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya. Dan barangsiapa membuat-buat kebiasaan baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya.” [Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi]
Diantara bid’ah dholalah adalah penafi’an atas sunnah dan hadits. Ketika Rasul membolehkan adanya kebiasaan baru yang baik, lalu mereka berkata, “Tidak ada yang namanya bid’ah hasanah. Jika memang hal itu baik, niscaya para salaful ummah telah melakukannya,” artinya mereka menolak adanya bid’ah hasanah, maka jelaslah bahwa mereka telah menafi’kan sunnah Rasul yang membolehkan bid’ah hasanah. Termasuk bid’ah dholalah adalah menafi’kan dzikir berjama’ah yang telah nyata dilakukan di masa Rasul.
Penafi’an terhadap hadits dan sunnah Rasul, penafi’an terhadap dzikir berjama’ah adalah suatu perkara baru yang sangat buruk. Dan segala perkara baru seperti ini, tentulah tidak dicontohkan oleh Rasul dan shahabat. Perkara baru seperti ini tentulah tidak diridhoi oleh Allah. Maka segala perkara baru seperti ini adalah sesat, dan segala yang sesat itu di neraka. Maka mereka dapat terjerumus ke dalam neraka jika mereka tidak bertobat dari mendustakan Rasul dan tidak bertobat dari bid’ah dholalah. Mendustakan Rasul dan menafi’kan sunnah adalah perkara baru yang sangat buruk sekali. Tidak ada salaful ummah yang menafi’kan sunnah atau pun mendustakan Rasul. Jika mereka mengaku sebagai pengikut salafush shalih, maka itu adalah pengakuan kosong tanpa bukti.
Tawassul dengan Nabi
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” [QS. Al-Isra’: 57]
Nabi Isa dan Nabi Uzair juga mencari jalan kepada Allah, mereka mencari siapa di antara para nabi yang lebih dekat kepada Allah. Siapa yang lebih dekat kepada Allah?
Dari Umar ra. Ia berkata: Rasulullah SAAW bersabda, “Tatkala Adam melakukan kesalahan, dia berkata: “Wahai Rabbku, aku memohon kepada-Mu dengan haq Muhammad akan dosa-dosaku, agar Engkau mengampuniku.” Lalu Allah berfirman: “Wahai Adam, bagaimana kamu mengenal Muhammad sedang Aku belum menciptakannya (sebagai manusia) ?” Adam menjawab: “Wahai Rabbku, tatkala Engkau menciptakanku dengan Tangan-Mu dan meniupkan ruh-Mu ke dalam diriku, maka Engkau Mengangkat kepalaku, lalu aku melihat di atas kaki-kaki arsy tertulis ‘Laa Ilaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah’ sehingga aku tahu bahwa Engkau tidak menambahkan ke dalam Nama-Mu kecuali makhluq yang paling Engkau cintai.” Lalu Allah Berfirman: “Benar engkau wahai Adam, sesungguhnya Muhammad adalah makhluq yang paling Aku cintai, berdoalah kepadaku dengan haq dia, maka sungguh Aku Mengampunimu. Sekiranya tidak ada Muhammad, maka Aku tidak menciptakanmu.” [HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak juz 2 halaman 615, dan beliau mengatakan shahih. Juga Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah. Ibnu Taimiyah mengutipnya dalam kitab Al-Fatwa juz 2 halaman 150, dan beliau menggunakannya sebagai tafsir/penjelasan bagi hadits-hadits yang shahih]
Bahwasanya Nabi SAAW pernah berdo’a dengan mengatakan, “Dengan haq Nabi-Mu dan Nabi-Nabi sebelum aku.” [HR. Imam Thabrani]
Mengirim Pahala bagi Mayyit
Diriwayatkan oleh Daruquthni bahwa seorang laki-laki bertanya, “Ya Rasulullah SAAW, saya mempunyai ibu bapak yang selagi mereka hidup, saya berbakti kepadanya. Maka bagaimana caranya saya berbakti kepada mereka, setelah mereka meninggal dunia?” Ujar Nabi SAAW, “Berbakti setelah mereka meninggal, caranya ialah dengan melakukan shalat untuk mereka disamping shalatmu, dan berpuasa untuk mereka disamping puasamu!”
Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a katanya: Seorang wanita telah datang menemui Rasulullah s.a.w dan berkata: Ibuku telah meninggal dunia dan masih mempunyai puasa ganti selama sebulan. Baginda bertanya kepada wanita itu dengan sabdanya: Bagaimana pendapatmu jika ibumu itu masih mempunyai hutang, adakah kamu akan membayarnya? Wanita itu menjawab: Ya. Lalu Rasulullah s.a.w bersabda: Hutang kepada Allah itu lebih berhak untuk dibayar. (HR. Bukhori dan Muslim)
Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAAW, “Ayahku meninggal dunia, dan ia meninggalkan harta serta tidak memberi wasiat. Apakah dapat menghapus dosanya bila saya sedekahkan?” Ujar Nabi SAAW, “Dapat!” [HR. Ahmad, Muslim dari Abu Hurairah]
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi SAAW lalu bertanya, “Ibuku bernadzar akan melakukan hajji, tapi belum juga dipenuhinya sampai ia meninggal. Apakah akan saya lakukan hajji itu untuknya?” Ujar Nabi SAAW, “Ya, lakukanlah! Bagaimana pendapatmu jika ibumu berhutang, adakah kamu akan membayarnya? Bayarlah, karena Allah lebih berhak untuk menerima pembayaran.” (HR. Bukhori)
Berkata Ibnu Al-Qayyim, “Ibadah itu dua macam, yaitu mengenai harta dan badan. Dengan sampainya pahala sedekah, syara’ mengisyaratkan sampainya pada sekalian ibadah yang menyangkut harta, dan dengan sampainya pahala puasa, diisyaratkan sampainya sekalian ibadah badan (badaniyah). Kemudian dinyatakan pula sampainya pahala hajji, suatu gabungan dari ibadah maliyah (harta) dan badaniyah. Maka ketiga macam ibadah itu, teranglah sampainya, baik dengan keterangan nash maupun dengan jalan perbandingan.”
Imam Nawawi mengutip penegasan Syaikh Taqiyyuddin Abul Abbas Ahmad bin Taimiyyah yang menegaskan: “Barangsiapa berkeyakinan bahwa seseorang hanya dapat memperoleh pahala dari amal perbuatannya sendiri, ia menyimpang dari ijma’ para ulama dan dilihat dari berbagai sudut pandang, keyakinan demikian itu tidak dapat dibenarkan.”
Baca juga:
Keutamaan Membaca Surat Yasin
Membaca Qur`an Di Pequburan
Dzikir Berjama’ah Secara Jahr
Masjid, Maulid, dan Tahlilan
Bid’ah
Dalil-Dalil Tawassul
Mengirim Pahala bagi Mayyit
Topics: Fikrah, Ibadah dan Hukum | No Comments »
Lifting Voice in Dzikr
By hotarticle | July 8, 2008
Then do ye remember Me; I will remember you. Be grateful to Me and reject not Faith. [QS. Al-Baqoroh: 152]
Those who believe, and whose hearts find satisfaction in the remembrance of Allah: for without doubt in the remembrance of Allah do hearts find satisfaction. [QS. Ar-Ra’d: 28]
And keep thy soul content with those who call on their Lord morning and evening, seeking His Face; and let not thine eyes pass beyond them, seeking the pomp and glitter of this Life; nor obey any whose heart We have permitted to neglect the remembrance of Us, one who follows his own desires, whose case has gone beyond all bounds. [QS. Al-Kahfi: 28]
Suggested to people who have founded sholatul jama’ah to lift their voice in dzikr together. It was mentioned on hadits Sayyidina Abdullah bin Abbas ra, he said, “In fact, lift the voice in dzikir when people have done from shalatul fardhu was happened at period of Rasulullah SAW.” [Imam Al-Bukhori and Imam Moslem]
Al-Hafizh Ibnu Hajar tell in Fat-hul Bari, “In the hadits, there is a meaning that we may harden the dzikr after founding sholah.”
And hadits “Irba’uu ‘ alaa anfusikum fa innakum laa tad’uuna ashomma wa laa ghoo-iba” explaining the prohibition order lifting voice when do the dzikr while walking and non when do the dzikr in jama’ah. If lift the voice in dzikr is prohibited, then how about takbir on ‘ Ied?
Syaddad bin Aus also tell a hadith, and agreed by Ubadah bin Ash-Shomit, he said: We are beside of Rasulullah SAW (shollallohu ‘alayhi wa sallam) when utter, “Is there any foreign among all of you?” We answer him, “No, yaa Rosululloh.” Then he command us to lock the door, then utter, “Lift your hands, then say LAA ILAAHA ILLALLOOH.” We also lift our hands then said it.
Then Rasulullah SAW put down his arms and utter, “Alhamdulillah, O Allah, Thou had sent me with this Tauhid word. Thou command me to practice it, and Thou promise the heaven for me. In fact Thou do not break a promise.” Then Rasulullah SAW utter, “Brighten up, because Allah have forgiven all of your sin.” [Imam Ahmad, Imam Thabrani, Al-Bazzar, Imam Al-Hakim]
Many other hadith talk about lift the voice when dzikr in jama’ah. There are no reason to say that lift the voice when dzikr in jama’ah is heresy. Only people who immature in thought and less comprehending of syari’ah who assuming this matter as heresy. Wallohu a’lam.
Topics: English Article, Ibadah dan Hukum | No Comments »
Praying, Gratitude or Denial
By hotarticle | July 8, 2008
Pray is the core of worship. Pray is the begining of gratitude. Shaikh Ibnu Atoillah said that sometimes he shy to pray to Allah because he feel thankless for everything that Allah gave to him before he ask for them. But then he pray, because pray is order from Allah. And obey the order from Allah is the worship.
So, the prayers have to remember that Allah who gave before asked. The prayer has to remember to all favour that Allah given to him before he ask, although he is not an appreciative people. It will rise the belief that Allah Ta’ala Is The Merciful and answer the pray of the servant who pray to Him. Allah gave many goodness to people who doesn’t pray to Him. How about to people who pray to Him?
Several peoples worship a statue or a human like Pharaoh. They ask all they need to the idol. They belief that the idol can give them benefit. And the true servants of Allah only worship and ask to Allah. They belief that only Allah who can give them benefit and all favour.
Every religious service have hikmah. There is some one who pray to Allah, “O Allah, please, make me to become Your servant who has income above US$ 1.000,- a day.” Then he think that pray is the key to open the door of wealthy that Allah prepare for him. If He doesn’t give it today, so He will accumulate it. Or may be He convert it whit something more valueable than US$ 1.000,- a day.
Then he remember that Allah still give him the life when in other place heared the crying that escort the coffin. That man also remember to Allah Who move him to pray on the dawn, while the other still asleep on the cradle of dream.
He also remember to the health that he feel. While some peoples feel the painful of the disease and need more than US$ 1.000,- to heal the disease.
And he remember to his job. Other peoples have to work more hard than him to get same income. Then he remember to his break-fast, while the other suffered by hungry.
Those all things make him realize that Allah gave him more than he asked. He thanks to Allah, and hopping that he get the mercy of Allah not only in this life, but also in akhirah. Then he please to get the protect of Allah from the hell-fire which prepared for thankless peoples.
Topics: English Article, Ibadah dan Hukum, Mari Raih Kesuksesan | No Comments »
Hadits About Khawarij
By hotarticle | July 8, 2008
Jabir bin ‘Abdullah, may Allah be pleased with them, reported: A person came to the Messenger of Allah (may peace be upon him) at Ji’ranah on his way back from Hunain, and there was in the clothes of Bilal some silver. The Messenger of Allah (may peace be upon him) took a handful out of that and bestowed it upon the people. He (the person who had met the Prophet at Ji’ranah) said to him: Muhammad, do justice. He (the Holy Prophet) said: Woe be upon thee, who would do justice if I do not do justice, and you would be very unfortunate and a loser if I do not do justice. Upon this ‘Umar bin Al-Khattab (Allah be pleased with him) said: Permit me to kill this hypocrite. Upon this he (the Holy Prophet) said: May there be protection of Allah! People would say that I kill my companions. This man and his companions would recite the Qur’an but it would not go beyond their throat, and they swerve from it just as the arrow goes through the prey. [Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad]
The khawarij peoples also recite Al-Qur’an. But their recitation didn’t go into their heart. So, what they follow is not a true meaning of Qur’an. They follow the interpretation of Qur’an that based on their passion.
Ali, may Allah be pleased with him, said: I heard the Messenger of Allah (may peace be upon him) as saying: There would arise at the end of the age a people who would be young in age and immature in thought, but they would talk (in such a manner) as if their words are the best among the creatures. They would recite the Qur’an, but it would not go beyond their throats, and they would pass through the religion as an arrow goes through the prey. So when you meet them, kill them, for in their killing you would get a reward with Allah on the Day of Judgment. [Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Daud]
They think that they are the best human. We can see this from their statement that they don’t take any madzhab. Don’t they know that Muhadditsin take a madzhab? They not only think as the best human in their era. Even they think as human that greater than Muhadditsin before them. They think that their maqom is same whit four Imam of madzhab. So, they think that they don’t need to take a madzhab. They feel proper to do ijtihad.
Their pioneer feel better than the Prophet SAW. They said, “O Muhammad, do justice!” Ask to your self, who is the man that have the highest taqwa? And ‘adl (justice) is a part of taqwa. Is there a human that have taqwa more than Prophet Muhammad Imamul Anbiya wa Sayyidul Mursalin, uswatun hasanah ala khuluqil azhim? Is there a human that more righteous than Rasul SAW?
They rose many serious problem. They kill Muslimin who against their opinions. They bomb some locations that can hurt Muslimin. They allow the murder to Muslim whitout the right reason. They do some actions that can nullify their Islamity. They go out from Islam like an arrow that loose from the bow. They go too far from Islam. So, it was too difficult to get them back to Islam. Against them on a discussion is a worship. Kill them on a war-field is a good deed.
Abu Sa’id Khudri, may Allah be pleased with him, reported: When ‘Ali (Allah be pleased with him) was in Yemen he sent some gold alloyed with dust to the Messenger of Allah (may peace be upon him), and the Messenger of Allah (may peace be upon him) distributed that gold among four men, Al-Aqra’ bin Habis Hanzali and ‘Uyainah bin Badr Al-Fazari and ‘Alqamah bin ‘Ulathah Al-’Amiri, then to one person of the tribe of Kilab and to Zaid Al-Khair Al-Ta’i, and then to one person of the tribe of Nabhan. Upon this the people of Quraish felt angry and said: He (the Holy Prophet) gave to the chiefs of Najd and ignored us. Upon this the Messenger of Allah (may peace be upon him) said: I have done it with a view to conciliating them. Then there came a person with thick beard, prominent cheeks, deep sunken eyes and protruding forehead and shaven head. He said: Muhammad, fear Allah. Upon this the Messenger of Allah (may peace be upon him) said: If I disobey Allah, who would then obey Him? Have I not been (sent as the) most trustworthy among the people of the world? but you do not repose trust in me. That person then went back. A person among the people then sought permission (from the Holy Prophet) for his murder. According to some, it was Khalid bin Al-Walid who sought the permission. Upon this the Messenger of Allah (may peace be upon him) said: From this very person’s posterity there would arise people who would recite the Qur’an, but it would not go beyond their throat; they would kill the followers of Islam and would spare the idol-worshippers. They would glance through the teachings of Islam so hurriedly just as the arrow passes through the pray. If I were to ever find them I would kill them like ‘Ad. [Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, Malik]
Sahl bin Hunaif’s Hadith, may Allah be pleased with him. Yusair bin ‘Amr reported: I said to Sahl bin Hunaif: Did you hear the Apostle of Allah (may peace be upon him) making a mention of the khwarij? He said: I heard him say (and he pointed with his hand towards the east): These would be a people who would recite the Qur’an with their tongues and it would not go beyond their collar bones. They would pass clean through their religion just as the arrow passes through the prey. [Bukhari, Muslim, Ahmad]
Topics: English Article, Fikrah | No Comments »
BID’AH (HERESY)
By hotarticle | July 7, 2008
I. Prophet s.a.w allowed bid’ah hasanah.
Prophet s.a.w allowed us to perform Bid’ah Hasanah (good Bid’ah) as long as it’s a good thing and is not against Islamic laws (syariah), as stated by him s.a.w: “Whoever creates or makes new good thing for the benefit of Islam, then he will receive rewards from Allah as well as the reward from people who follow him and it will not be lessened at all. And whoever creates new but bad thing in Islam, then for him all the sins from people who follow him and the sins will not be lessened even a little” (Shahih Muslim hadits no.1017, also being written and told in Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban and many more). This Hadits explained the meaning of Bid’ah hasanah and Bid’ah dhalalah.
Focus on the hadits from him s.a.w, isn’t he s.a.w encourage it?, if you all have a new opinion or idea that makes benefit or advantages to Islam then do it…, how magnificent it is the guidance from Prophet s.a.w which didn’t strangle nor hamper his followers. Prophet s.a.w knew that his followers will not live for only 10 nor 100 years, but thousand years. Humankind will continue living on earth and will come with them the new and advanced era, modernisation, the passing away of Moslem scholars, the spreading of misdeed and crime, hence obviously it is important to have new ideas and opinion in order to protect Moslem people and to keep them in nobility. This is the form of perfection of this religion, which can be applied at any time or situation until the end of the world, this is the true meaning of the verse: “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM..etc, “ today I completed and made perfect your religion for you all, I also complete the convenience and comfort for you all, and I permit Islam as your religion”, the meaning is that all the lessons have been completed and perfect, no need other opinions to mend this religion. Therefore, all new things and ideas as long as they are included in syariah category have been blessed by Allah and His Prophet s.a.w, how perfect Islam is.
But it also doesn’t mean to create a new religion or new laws which against the syariah (Islamic laws) and sunnah Prophet s.a.w, nor allowing those already been forbidden by Prophet s.a.w or the other way around, this is the true meaning of his hadits s.a.w: “Whoever creates new things that causes immorality…etc”, this is called Bid’ah Dhalalah. He s.a.w has understood this all, that the time will change, therefore he s.a.w give permission to it (new good things or ideas), encouraged it and supported us to perform it, in order that his people wouldn’t be strangled and trapped in the old situation when he s.a.w lived, and he s.a.w has also warned his followers not to perform or create bad things (Bid’ah dhalalah).
About the opinion that says this hadits is especially for giving alms only, this opinion comes from those who are shallow in understanding syariah, because the above hadits clearly does not mention about restriction on giving alms only. It is proven by bid’ah hasanah done by the comrades of Prophet s.a.w as well as Tabi’in.
II. Who first started performing Bid’ah hasanah after Prophet s.a.w passed away?
When there was a massacre towards the comrades of Prophet (Ahlul yamaamah) whom were Huffadh (those who memorized) Alqur’an and the Experts in Alqur’an in the era of Khalifah Abubakar Asshiddiq r.a, then Abubakar Ashiddiq r.a said to Zeyd bin Tsabit r.a : “Really Umar (r.a) has come to me reporting the massacre of ahlulyamaamah and we feared the killing will continue towards the Experts of Ahlulqur’an, then he suggested that I (Abubakar Asshiddiq r.a) compile and write Alqur’an, I said: How could I do something never been performed by Rasulullah..??, then Umar said to me, in the Name of Allah this is for the good cause and is fine, and he kept on convincing me until Allah cleared my heart and I agreed, and now I share the same opinion with Umar, and you (Zeyd) is a young smart man, and we never accuse you (you never conduct any crime), you have written the divine revelation (wahyu), and now follow this and start compiling Alqur’an and write Alqur’an..!” said Zeyd : “In the Name of Allah really if I was ordered to move a mountain, even mountain is not as heavy as your order to compile Alqur’an, how could both of you perform something that never been done by Rasulullah s.a.w??”, then Abubakar r.a said that it is for a good cause, so he convinced me until Allah clear my heart and I agreed and now I share the same opinion with both of them and I started to compile Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 and 6768).
There my brothers, if we take notice the above context, Abubakar shiddiq r.a admitted it with his words: “until Allah cleared my heart and I agreed and now I share the same opinion with Umar”, his heart is clear to accept new thing (bid’ah hasanah) that was to compile Alqur’an, because long before, Alqur’an was yet to compile in one book, but were scattered in the memory of the comrades of Prophet s.a.w, some were written on camel’s skin, on the wall, being memorized, etc. This is Bid’ah hasanah, and they both who started performing it.
Let us take notice on the hadits that was used as an argument to erase Bid’ah hasanah, that all bid’ah were misleading. It has been told that after performing fajr prayer, Rasul s.a.w came to us and delivered a religious speech that made our hearts shaking, and made our tears fell down.., then we asked: “O’ Rasulullah.. it seems like the testament for farewell…, kindly give us the testament…” then Prophet s.a.w spoke: “I bequeath you all to be pious to Allah, to listen and to follow although you are led by the African slave, truly amongst some of you who have longer life will witness so many different opinions (ikhtilaf), hence hold firmly to my sunnah and sunnah from khulafa’urrasyidin which will give you guidance, bite firmly with your teeth (an analogy for intensity and seriousness), and beware of new things, truly that all that is called Bid’ah is misleading”. (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329).
Clearly that Prophet s.a.w explained us to follow his sunnah and sunnah from khulafa’urrasyidin, while in his sunnah s.a.w the new thing(s) is allowed as long as it’s good and doesn’t violate Islamic law (syariah), as well as sunnah khulafa’urrasyidin. You all witnessed it yourself how Abubakar shiddiq r.a and Umar bin Khattab r.a agreed and even encouraged and ordered the new thing that had never been done by Prophet s.a.w, that was compiling of Alqur’an, in which the writing and compiling process was completed in the era of Khalifah Utsman bin Affan r.a, with the approval and presence of Ali bin Abi Thalib k.w.
There,.. the four noblest and perfect men in humanity, khulafa’urrasyidin performed bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq r.a in his leadership era ordered the compilation of Alqur’an, then Umar bin Khattab r.a also in his leadership era had instructed people to perform tarawih (night prayer during Ramadhan) together, while saying: “This is the best Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906). Then the compilation and writing of Alqur’an had been completed in the era of Khalifah Utsman bin Affan r.a, therefore Alqur’an now is known with the name Mushaf Utsmaniy, and Ali bin Abi Thalib k.w attended and approved this action. Also there was an action invented without Prophet s.a.w command, performing adzan (summon for prayer) twice before Friday Prayer, this had never been done in the era of Prophet s.a.w, nor in the era of Khalifah Abubakar shiddiq r.a, not in the era of Umar bin khattab r.a either, and had just performed in the era of Utsman bin Affan r.a, continued until today (Shahih Bulkhari hadits no.873).
Who was wrong and accused?, who understood better that Bid’ah was forbidden?, was there any opinion stated that these four Khulafa’urrasyidin didn’t understand the meaning of Bid’ah?
III. Bid’ah Dhalalah
Clearly that those who rejected bid’ah hasanah belong to the group of Bid’ah dhalalah, and Bid’ah dhalalah has various types, such as the denial of sunnah, rejection towards whatever the comrades were saying, rejection towards the opinion from Khulafa’urrasyidin, …among others were the rejection towards new thing/action although it was good and not went against Islamic law (syariah), while this had been allowed by Prophet s.a.w and had been done by Khulafa’urrasyidin, and Prophet s.a.w had clearly informed that there would be many differences (ikhtilaf), “hold on to my Sunnah and Sunnah from Khulafa’urrasyidin,” what was said by Sunnah Rasul s.a.w?, He s.a.w allowed Bid’ah hasanah, how about sunnah Khulafa’urrasyidin?, they performed Bid’ah hasanah, therefore the rejection and denial towards this thing is clearly what we called by Bid’ah dhalalah, the thing already warned by Rasul s.a.w.
If we omit and erase Bid’ah hasanah, then we have erased and performed bid’ah towards The Holy Book Al-Quran and the Book of Hadits which have been the main guidance in Islam. Why? because there was no instruction from Prophet s.a.w to compile these two books (Al-Quran and Hadits), and it was an unanimous opinion (ijma) amongst the comrades Radhiyallahu’anhum and it had been performed after Rasulullah s.a.w passed away.
The hadits books such as Shahih Bukhari, shahih Muslim etc also had been compiled and written in one book without instruction from Rasul s.a.w, nor the instruction from Khulafa’urrasyidin, yet the tabi’in started to write the book on hadits Rasul s.a.w, as well as knowledge on Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, etc in order that we could understand the different level of hadits. This all is possible because of Bid’ah but the good ones (Bid’ah Hasanah). Also the words “Radhiyallahu’anhu” towards the comrades of Prophet s.a.w, had never been taught by Prophet s.a.w, nor by the comrades themselves, although it was mentioned in the Al-Quran that these comrades were blessed by Allah, but there was no instruction in the verses nor in the hadits Prophet s.a.w to say those words for his comrades. But because of the love from these Tabi’in towards the comrades, they added these words. And this is Bid’ah Hasanah based on the above Hadits. Then now we have Al-Quran being recorded in tapes, copied into CDs, Al-Quran program in hand phones, Al-Quran being translated, all of these are Bid’ah hasanah. The good Bid’ah will bring the advantages towards Moslem people, and because of the above Bid’ah hasanah it is much easier for us to learn Al-Quran, to always recite Al-Quran, even to memorize Al-Quran and nobody can deny this fact.
Now if we look back to the history of Islam, if Al-Quran were not compiled into a book by the Comrades r.a, what would happen to the development of Islamic history? Al-Quran would still scatter on the walls, on camel’s skin, in the memory of Comrades r.a which only few had been written, then thousand versions of Al-Quran would appear in this era now, because every bodu would collect and compiled into a book, in which has its own interpretation and its own story, this will destroy Al-Quran and demolish Islam. But with Bid’ah Hasanah, we can now still identify the complete Al-Quran, and with Bid’ah Hasanah also we can still recognize Hadits from Prophet s.a.w, thus Islam will be strong and everlasting. Clearly what has been allowed by Prophet s.a.w, because he s.a.w had known that new good things (Bid’ah hasanah), would appear sooner or later, and Prophet s.a.w had prohibited new bad things (Bid’ah dhalalah).
My brothers, open your heart to accept this all, remember what had been said by this first Amirulmukminin, his words are the jewels of Alqur’an. The great figure, Abubakar Ashiddiq r.a said about Bid’ah hasanah: “until Allah cleared my heart and I agreed and now I share the same opinion with Umar”.
Then also commented Zeyd bin haritsah r.a :”..how could both of you (Abubakar and Umar) perform something that never been done by Rasulullah s.a.w??, then Abubakar r.a answered that it was for a good cause, so he (Abubakar r.a) also convinced me (Zeyd) until Allah cleared my heart and I agreed and now I share the same opinion with both of them”.
Therefore I call upon my noble Moslem brothers, the clear heart that accept new good things are the same one with the heart of Abubakar shiddiq r.a, the heart of Umar bin Khattab r.a, the heart of Zeyd bin haritsah r.a, and the heart of comrades, these are the hearts that have been cleaned by Allah s.w.t. And be suspicious to yourself if you find yourself deny this, perhaps your heart hasn’t been cleared by Allah, therefore you wouldn’t agree with these noble people, not yet agree with their opinion, still refuse bid’ah hasanah. While Prophet s.a.w had reminded you that there would be many differences (ikhtilaf), and hold firmly to my sunnah and sunnah from khulafa’urrasyidin which will give you guidance, bite firmly with your teeth (an analogy for intensity and seriousness) to my guidance and their guidance.
May Allah clear my soul and all of your souls in order that we share the same opinion and thoughts with Abubakar Asshiddiq r.a, Umar bin Khattab r.a, Utsman bin Affan r.a, Ali bin Abi Thalib k.w and all the comrades.. amiin.
IV. Opinions on Bid’ah from many Imam and Muhadditsin
1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah (Imam Syafii) Imam Syafii said that bid’ah was divided into two, bid’ah mahmudah (commendable) and bid’ah madzmumah (blameworthy), therefore those in line with sunnah are praiseworthy, and those not in line with sunnah are blameworthy. He was based on what being said by Umar bin Khattab r.a about tarawih prayer: “this is the best bid’ah”. (Interpretation from Imam Qurtubiy, Part 2 pages: 86-87)
2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
“in reacting to what he said (Imam Syafii’s statement), I would say (Imam Qurtubi said) that the meaning of the hadits by Prophet s.a.w: “the worst problem is the new thing, and all Bid’ah are dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah) actually are the things that are not in line with Alqur’an and Sunnah Rasul s.a.w, or the action of Comrades radhiyallahu ‘anhum. It really has been elaborated more in other hadits: “Whoever creates new things that are good in Islam, then for him the reward as well as the reward from those following him and the rewards won’t be lessened at all. And whoever create new things that are bad for Islam, then for him the sins as well as the sins for those following him” (Shahih Muslim hadits no.1017) and this hadits is the core explanation on good bid’ah and misleading bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy, Part 2 page 87)
3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
“The explanation on hadits : “Whoever create new things which are good for Islam, then for him the rewards as well as the rewards of people who follow him and it won’t be lessened from his rewards, and those created bad things will create sins..etc”, this hadits is an encouragement to create good habits, and the threat if creating bad things, and there is an exception in this hadits, from what Prophet s.a.w said: “all new things are Bid’ah, and all that is called Bid’ah is misleading”. Really what it meant was the new bad things and the blameworthy Bid’ah”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim, Part 7 pages: 104-105)
And also there was a statement from Imam Nawawi that Ulama (Moslem scholars) divide bid’ah into 5 types: the obligatory Bid’ah, Bid’ah mandub (you will receive reward/merit if doing it, and wouldn’t get sin if not willing to do it), bid’ah mubah (neutral), bid’ah which is objectionable (makruh) and forbidden bid’ah (haram). The example of obligatory Bid’ah is to include religious arguments in statements that confront denials. An example of bid’ah mandub is making books on syariah knowledge, building classes and majelis taklim as well as Islamic boarding schools. An example of Bid’ah Mubah is the different kinds of food types, while Bid’ah makruh and haram have been widely known. This in the meaning of the exceptional from the regular meaning, as being stated by Umar r.a to his people who performed tarawih prayer together, that this is the best bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim, Part 6 pages:154-155)
4. Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy rahimahullah
About the hadits “Bid’ah Dhalalah”, it means “Aammun makhsush”, (something common but has some exceptions), as Allah commands: “… that Destroy everything” (QS Al Ahqaf 25) and the truth is not everything is destroyed, (*or also in the verse: “Really I have confirmed my decision to fill up the hell with genies and human beings all of them” QS Assajdah-13), and in fact not all humankinds go into hell, but this verse is meant for all polytheists (musyrikin) and tyrants (dhalim). writer) or the hadits: “I and the resurrection day (kiamat) are close like these fingers” (in fact the judgment day is still thousand years after the passing away of Rasul s.a.w) (Syarh Assuyuthiy Part 3 page: 189).
Hence if there is new thought in the end of time which in opposition to the understanding of those Muhaddits, then we must be careful, from where they get the knowledge?, their understanding is based on what?, or someone who is called the religious leader (imam) while he is far from reaching the level of hafidh or muhaddits?, or perhaps it is merely a thought and saying from people who don’t posses sanad, simply interpreting some hadits and jumping into his own conclusion regardless the official religious opinions (fatwa) from Imam?
Walillahittaufiq
Contributed by Munzir Almusawa
Topics: Fikrah, Ibadah dan Hukum | No Comments »
Dzikir Berjama’ah Secara Jahr
By hotarticle | July 7, 2008
Fadzkuruunii Adzkurkum. (Ingatlah/berdzikirlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku mengingat kalian) [QS. Al-Baqoroh: 152]
Camkanlah, bahwa dengan dzikrullah itu hati menjadi tenang! [QS. Ar-Ra’d: 28]
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. [QS. Al-Kahfi: 28]
Disunnahkan bagi orang-orang yang selesai mendirikan shalat berjama’ah untuk mengangkat suaranya dalam berdzikir secara berjama’ah. Hal tersebut didasarkan pada hadits Sayyidina Abdullah bin Abbas ra, beliau berkata, “Sesungguhnya mengangkat suara dalam dzikir ketika orang-orang telah selesai dari shalat fardhu itu terjadi pada masa Rasulullah SAW.” [HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim]
Al-Hafizh Ibnu Hajar rah.a mengatakan dalam Fat-hul Bari, “Dalam hadits tersebut terkandung makna bolehnya mengeraskan dzikir setelah mendirikan shalat.”
Adapun hadits “Irba’uu ‘alaa anfusikum fa innakum laa tad’uuna ashomma wa laa ghaa-iba” menjelaskan larangan mengangkat suara ketika berdzikir sambil berjalan-jalan dan bukan ketika berjama’ah di suatu majelis. Jika menjahr dzikir itu di larang, lalu bagaimana dengan takbiran yang dilakukan pada hari ‘Id?
Syaddad bin Aus ra juga meriwayatkan, dan dibenarkan oleh Ubadah bin Ash-Shamit, dia berkata: Kami berada di sisi Rasulullah SAW ketika beliau bersabda, “Adakah di antara kalian orang yang asing?” Kami menjawab, “Tidak ada yaa Rasulullah.” Lalu beliau memerintahkan untuk mengunci pintu, lalu bersabda, “Angkatlah kedua tangan kalian, lalu ucapkanlah LAA ILAAHA ILLALLAAH.” Kami pun mengangkat kedua tangan kami sesaat. Kemudian Rasulullah SAW meletakkan tangannya dan bersabda, “Al-hamdu lillaah, yaa Allaah, sesungguhnya Engkau telah mengutusku dengan (mengemban) kalimat (tauhid) ini. Engkau memerintahkan aku untuk mengamalkannya, dan Engkau menjanjikan surga bagiku karenanya. Sesungguhnya Engkau tidak mengingkari janji.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Bergembiralah, karena sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosa kalian.” [HR. Imam Ahmad, Imam Thabrani, Al-Bazzar, Imam Al-Hakim]
Banyak lagi hadits shahih yang mengungkapkan masalah mengangkat suara dalam dzikir berjama’ah. Jadi, tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa hal ini adalah perkara bid’ah. Hanya kaum yang lemah aqal dan kurang memahami syari’at saja yang menganggap hal ini sebagai perkara bid’ah. Wallahu a’lam.
Topics: Ibadah dan Hukum | No Comments »
Doa: Syukur atau Kufur
By hotarticle | July 7, 2008
Doa merupakan inti ibadah. Doa merupakan awal terjadinya kesyukuran. Syaikh Ibnu Athoillah pernah berkata bahwa beliau terkadang malu untuk berdoa dan meminta kepada Allah SWT karena merasa bahwa beliau belum mensyukuri segala ni’mat yang telah Allah anugerahkan. Selain itu beliau juga takut merasa seakan-akan Allah SWT tidak memberi sebelum diminta. Namun kemudian beliau tetap berdoa, karena doa adalah perintah Allah. Sedangkan menjalankan perintah Allah SWT adalah ibadah.
Jadi maksudnya adalah orang yang berdoa itu hendaklah ingat bahwa Allah adalah Yang Memberi sebelum diminta. Hendaknya orang yang berdoa itu ingat akan segala anugerah yang telah Allah beri tanpa kita minta, padahal kita bukanlah orang yang banyak bersyukur. Sehingga muncul keyakinan bahwa Allah SWT memanglah Mahapengasih lagi Mengabulkan doa orang-orang yang berdoa. Kepada mereka yang tidak berdoa saja Allah telah begitu pengasih. Bagaimana lagi kepada mereka yang berdoa kepada-Nya.
Sebagian manusia beribadah kepada patung atau kepada manusia seperti Firaun. Mereka meminta kepada berhala-berhala itu apa-apa yang mereka inginkan. Mereka berfikir bahwa berhala-berhala itu dapat memberi manfaat. Sedangkan hamba-hamba Allah yang sejati hanya kepada Allah mereka menyembah dan meminta. Mereka yakin bahwa hanya Allah yang dapat memberi manfaat.
Setiap ibadah tentu ada hikmahnya. Ada orang yang berdoa kepada Allah, “Ya Allah, jadikanlah aku sebagai hamba-Mu yang memiliki penghasilan di atas 10 juta rupiah per hari.” Lalu dia berfikir, doa merupakan kunci ataupun password untuk membuka pintu dari perbendaharaan yang telah Allah sediakan bagi kita. Jika Dia tidak memberikan apa yang kita minta hari ini, maka Ia mengakumulasi pemberian-Nya yang Dia tahan untuk diberikan di kemudian hari. Atau mungkin Dia mengkonversinya dengan yang lebih baik dan lebih berharga dari uang 10 juta rupiah pada hari itu. Lalu orang itu teringat bahwa Allah masih memberinya kehidupan pada hari itu. Sementara di tempat lain terdengar suara tangis mengiringi anggota keluarganya yang meninggal dunia.
Orang itu juga teringat bahwa Allah telah menggerakkan dia untuk ikut shalat shubuh berjama’ah. Sementara sebagian tetangganya masih terlelap dibuai mimpi. Hamba itu juga teringat akan kesehatan yang dia rasakan. Sementara sebagian manusia sedang merasakan kesakitan akibat parahnya penyakit yang dia derita, dan diperlukan uang puluhan juta rupiah untuk mengobatinya.
Lalu dia teringat akan mata pencahariannya yang mana sebagian manusia harus mencari nafkah dengan jalan yang lebih berat namun lebih sedikit hasilnya. Teringat pula ia akan segala makanan yang dia ni’mati. Sementara di tempat lain, orang-orang menderita kelaparan yang hebat.
Mengingat semua itu, bersyukurlah si hamba karena Allah telah memberinya lebih dari yang ia pinta. Dia berharap bahwa segala kebaikan itu tidak hanya dia rasakan di dunia ini, namun juga di akhirat kelak. Lalu dia memohon perlindungan Allah dari siksa neraka yang Allah siapkan bagi mereka yang mengingkari Allah Sang Pemberi ni’mat.
Topics: Ibadah dan Hukum, Mari Raih Kesuksesan | 1 Comment »
Hadits Mengenai Khawarij
By hotarticle | July 7, 2008
Diriwayatkan daripada Jabir bin Abdullah r.a katanya: Seorang lelaki telah datang menemui Rasulullah s.a.w di Ja’ranah setelah kembali dari Peperangan Hunain. Pada pakaian Bilal terdapat perak dan Rasulullah s.a.w mengambil darinya untuk dibahagikan kepada orang ramai. Lelaki yang datang itu berkata: “Wahai Muhammad! Kamu hendaklah berlaku adil.” Rasulullah s.a.w bersabda: “Celakalah kamu! Siapa lagi yang lebih berlaku adil? Jika aku tidak adil. Pasti kamu yang rugi, jika aku tidak berlaku adil.” Umar bin al-Khattab r.a berkata: “Biarkan aku membunuh si munafik ini, wahai Rasulullah!” Rasulullah s.a.w bersabda: “Aku berlindung dengan Allah dari kata-kata manusia bahawa aku membunuh sahabatku sendiri. Sesungguhnya orang ini dan teman-temannya membaca al-Quran tetapi tidak melampaui kerongkong mereka iaitu tidak mengambil faedah dari apa yang mereka baca bahkan mereka hanya sekadar membacanya sahaja. Mereka menyudahi bacaan al-Quran sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan.” [HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad]
Kaum khawarij itu juga membaca Al-Qur’an. Namun bacaan mereka tidak sampai tertanam di hati dengan benar. Sehingga yang mereka ikuti itu bukanlah Al-Qur’an berdasarkan pemahaman yang benar. Bahkan mereka itu mengikuti penafsiran berdasarkan nafsu mereka dan ustadz-ustadz mereka.
Diriwayatkan daripada Ali r.a katanya: Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Pada akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akalnya. Mereka berkata-kata seolah-olah mereka adalah manusia yang terbaik. Mereka membaca al-Quran tetapi tidak melepasi kerongkong mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. Apabila kamu bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka kerana sesungguhnya, membunuh mereka ada pahalanya di sisi Allah pada Hari Kiamat. [HR. Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Daud]
Mereka merasa bahwa mereka adalah manusia terbaik. Hal ini dapat kita lihat pada sikap mereka yang enggan bermadzhab. Padahal para ulama hadits pun bermadzhab kepada salah satu imam dari 4 imam madzhab. Mereka bukan saja merasa sebagai manusia terbaik di zamannya. Bahkan mereka merasa sebagai manusia yang lebih hebat dari para ulama hadits sebelum mereka. Mereka merasa bahwa kedudukan mereka sama dengan 4 imam madzhab. Sehingga mereka merasa tidak perlu bermadzhab. Mereka merasa pantas untuk berijtihad.
Bahkan pendahulu mereka telah merasa lebih baik dari Nabi dengan berkata, “Wahai Muhammad, berbuatlah adil!” Coba Anda renungkan! Siapakah manusia yang paling tinggi taqwanya? Sedangkan adil adalah salah satu bagian dari taqwa. Manusia paling bertaqwa itu tentu saja Nabi Muhammad Imamul Anbiya wa Sayyidul Mursalin, uswatun hasanah ‘ala khuluqil azhim. Adakah manusia yang lebih adil dari Rasul SAW?
Mereka telah menimbulkan masalah yang cukup serius. Mereka telah melakukan pembunuhan terhadap Muslimin yang bertentangan dengan mereka. Melakukan pemboman yang menyebabkan korban nyawa dan luka parah dari kaum Muslimin. Mereka telah menghalalkan darah ummat Islam tanpa alasan yang haq. Mereka telah melakukan tindakan-tindakan yang dapat membatalkan ke-Islaman mereka. Mereka keluar dari Islam, seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Mereka keluar jauh dari Islam. Sehingga sulit untuk mengembalikan mereka kepada Islam. Memerangi mereka dalam diskusi merupakan ibadah. Membunuh mereka di medan perang ada pahalanya di akhirat kelak.
Diriwayatkan daripada Abu Said al-Khudri r.a katanya: Ali yang menjadi utusan di Yaman, mengirimkan emas yang belum diproses kepada Rasulullah s.a.w lalu baginda membahagikannya kepada empat atau beberapa orang iaitu al-Aqra’ bin Haabis, Uyainah bin Badr al-Fazari, Alqamah bin Ulasah al-Amiri, kemudian kepada seorang dari Bani Kilab iaitu Zaid al-Khair At-Tha’ie, juga kepada seorang dari Bani Nabhan. Orang-orang Quraisy marah dan berkata: Engkau memberikannya kepada pemimpin-pemimpin Najd, tetapi meninggalkan kami iaitu tidak memberikannya kepada kami? Rasulullah s.a.w bersabda: Aku lakukannya untuk memujuk hati mereka. Setelah itu datang seorang lelaki yang berjanggut tebal dan menonjol rahangnya. Manakala kedua matanya cengkung dan dahinya pula menonjol keluar. Kepalanya juga botak iaitu kesan cukur. Dia berkata: Takutilah Allah, wahai Muhammad! Rasulullah s.a.w bersabda: Siapa lagi yang lebih taat kepada Allah kiranya aku menderhakaiNya? Tidakkah Dia mempercayaiku atas penduduk bumi, sedangkan engkau tidak mempercayaiku? Lalu lelaki itu beredar. Seorang di antara orang ramai meminta izin untuk membunuh lelaki tersebut. Tetapi Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya di antara kaumku ini, ada orang-orang yang membaca al-Quran tetapi tidak melepasi kerongkong mereka iaitu tidak mengambil faedah dari apa yang mereka baca bahkan mereka hanya sekadar membacanya sahaja. Mereka mampu membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala hidup. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. Jika sekiranya aku menemui mereka, pasti aku bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. [HR. Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, Malik]
Hadis Sahl bin Hunaif r.a: Diriwayatkan daripada Yusair bin Amr katanya: Aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif: Adakah engkau pernah mendengar Nabi s.a.w menceritakan tentang Khawarij? Sahl menjawab: Aku mendengarnya sambil menunjuk dengan tangannya ke arah timur. Suatu golongan membaca al-Quran dengan lidah mereka, tetapi tidak sampai ke otak mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. [HR. Bukhari, Muslim, Ahmad]
Topics: Aqidah, Fikrah | No Comments »
